Join Indofiles VIP IndoLocker.com - We here to Share

User Tag List

Results 1 to 10 of 10

Thread: Sepercik Bara Asmara di Twitter

  1. #1
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Sepercik Bara Asmara di Twitter

    Aku mengantri memasuki lobby utama sebuah mall. Untuk kesekian kalinya aku melirik

    jam di tanganku. Sudah telat lebih dari setengah jam dari janji. Di dalam hati, aku sibuk

    mengutuki Nan yang tadi menahanku saat hendak meninggalkan kantor. Nan menarikku

    ke ruang meeting, kemudian kami duduk berhadap-hadapan di pojok meja. Sebelum dia

    cerita, aku tahu pasti dia akan bercerita tentang Ricky, lagi. Dengan setengah hati aku

    mendengarkan ceritanya sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangan kiriku. Aku

    yakin akan telat kalau tidak berangkat sekarang. Tapi Nan sepertinya tidak perduli dengan

    kegelisahanku. Beberapa kali aku menunjukkan dengan jelas gerakan melihat jam, tapi

    dia tidak terganggu atau merasa tersindir. Nan tetap bercerita menggebu-gebu tentang

    prasaannya yang katanya semakin dalam pada Ricky dan juga ketakutannya yang sangat

    jika suaminya sampai mengetahui hubungan terlarang mereka.

    Nan sangat terbuka padaku. Apapun yang dia lakukan dengan selingkuhannya, akan

    diceritakan padaku. Detail.

    “Gue percaya elu dan gue yakin lu nggak akan cerita sama siapa pun.” katanya saat

    kutanya pertama kali mengapa dia menceritakan hubungannya itu padaku. Dan aku

    memang tidak pernah menceritakannya pada siapa pun. Bagiku, kepercayaan adalah harga

    mati. Nan tahu itu, dan dia memanfaatkannya. Aku kenal Nan sejak bekerja di kantor ini

    sekitar dua tahun yang lalu. Dapat dikatakan pertemanan kami dekat. Aku juga mengenal

    suaminya, Isar dan kedua anak mereka yang lucu-lucu.

    Setiap ada acara di rumahnya, misalnya ulang tahun anak-anaknya, aku wajib datang.

    Terkadang, aku berbincang ringan dengan Isar. Kesan yang kutangkap dari cerita dan tutur

    katanya, Isar adalah suami yang baik. Dia memiliki pekerjaan yang bagus, selalu punya

    waktu untuk kedua anaknya, dan dia sangat mencintai Nan. Demikian penilaianku. Tapi

    kenapa Nan selalu merasa kurang? Ah, manusia memang selalu tidak pernah puas dengan

    apa yang telah dimiliki.

    Nan kembali mengulang-ulang betapa dia tidak nyaman hidup seperti ini. Ada rasa bersalah

    menggelitik nuraninya tiap kali dia memasuki pintu rumahnya, terutama sehabis menyewa

    kamar hotel bersama Ricky. Nan tidak ingin keluarganya hancur, tapi rasa cintanya pada

    Ricky pun semakin dalam. Beberapa kali Nan menangis saat sholat. Isar yang menjadi

    imam sempat memergokinya dan menanyakan masalahnya. Nan hanya bilang masalah

    kerjaan di kantor.

    Sebagai teman aku berusaha berkata jujur, tapi tidak ingin menghakimi apa yang dia

    perbuat. Mungkin karena itu dia tidak pernah sungkan bercerita padaku. Sebagai sesama

    wanita, aku paham yang dia rasakan. Setelah sembilan tahun menjalani kehidupan rumah

    tangga, dia mulai merasakan kehambaran dalam perkawinannya dengan Isar. Beberapa

    kali aku menganjurkan supaya mereka konsultasi ke konsultan pernikahan. Nam setuju,

    tapi Isar menolak karena menurutnya perkawinan mereka baik-baik saja. Isar mengerti

    bila sesekali Nan pulang agak larut karena pekerjaan menuntut demikian. Entahlah,

    apakah suaminya memang merasa perkawinan mereka baik-baik saja atau dia terlalu takut

    menghadapi kenyataan bahwa hubungan mereka sebenarnya ada masalah.

    Berulang kali kukatakan pada Nan bahwa bila ingin hidup tenang dia harus membuat

    keputusan; bercerai dengan Isar atau putus dengan Ricky. Simpel. Tentu jawabannya tidak

    pernah bisa sesimpel itu.

    “Nggak mungkin gue cere, Cha! Anak-anak gue gimana dong? Mereka dekat banget sama

    ayahnya.” demikian jawaban Nan.

    Ya aku tahu itu. Soal kedekatannya dengan anak-anak, Nan kalah jauh dibanding

    suaminya. Nan yakin bila sekiranya mereka bercerai, maka kedua anaknya akan memilih

    ikut Isar dari pada ikut dia. Aku juga tahu, walaupun kelihatannya Nan cuek pada anak-

    anak, dia tidak akan bisa hidup tanpa mereka.

    “Hak asuh anak di bawah umur pasti jatuh ke tangan ibunya.” kataku menguatkannya.

    Tidak ada maksudku menyetujui perceraian mereka. Aku hanya ingin memberikan

    pemikiran padanya, atau juga mungkin untuk menyadarkan posisinya.

    “Memang. Tapi kalau anak-anak lebih memilih ayahnya bagaimana? Lagi pula aku tidak

    setelaten Isar mengurus anak-anak. Mereka hanya mau makan bila Isar yang menyuruh.”

    “Ya mulai dari sekarang lu harus merubah sikap dong! Beri perhatian yang cukup buat

    anak-anak. Jadi bila saatnya tiba, lu sudah merebut hati mereka.” kataku geregetan.

    “Hmm… masalah yang lain adalah……” Nan menunduk dan diam beberapa saat.

    Aku tak sabar menunggu dia melanjutkan ceritanya. Masalahnya sekarang aku

    sudah pasti telat dengan janjiku bertemu seseorang. Nan hanya memandangku. Aku

    mengangkat alis tanda menunggu kelanjutan ceritanya. Dia menarik nafas dalam kemudian

    menghembuskannya perlahan, lanjutnya, “Masalahnya gue nggak yakin sama Ricky.

    Maksud gue.. eeeemm… gue nggak yakin dia mau meninggalkan anak dan istrinya.”

    Aku menghembuskan nafas panjang sambil menyandarkan punggungku. Dia sebenarnya

    sudah tahu jawabanku, tapi mengapa dia harus menceritakan semua itu? Aku menatapnya

    beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Dia menundukkan kepalanya. Sungguh, aku

    menatapnya bukan karena kaget atas apa yang baru saja dia ucapkan. Bukan. Pikiranku

    melayang pada jalanan yang mulai macet dan kerepotan yang akan aku hadapi untuk

    mencapai sebuah cafe di sebuah mall.

    Sesungguhnya yang ada dalam pikiranku saat itu adalah bagaimana menyelesaikan

    pembicaraan ini secepatnya. Karena bila diikuti bisa sampai subuh juga tidak selesai.

    Beberapa kali aku ingin menutup pembicaraan ini dengan mengatakan bahwa putus dengan

    Ricky adalah yang terbaik dan dia akan baik-baik saja. Tapi seperti yang sudah-sudah, aku

    yakin Nan akan membuat argumen-argumen yang hanya akan memperpanjang percakapan.

    Saat Nan mengangkat kepalanya dan menatapku, aku langsung melirik jam di pergelangan

    tanganku. Usahaku yang kesekian kalinya supaya dia paham.

    “Kepikiran untuk nikah siri saja, jadi kami tidak merasa berdosa lagi bila melakukannya.”

    “What???”

    Aku terkadang tidak mengerti cara pikir orang-orang ini. Tahu berselingkuh itu adalah salah

    menurut hukum manusia dan Tuhan, tapi tetap dilaksanakan. Juga sangat sadar sesadar-

    sadarnya bahwa Tuhan tidak tidur, dengan kata lain Dia melihat semua yang kita lakukan,

    sehingga timbullah ide gila nikah siri. Bukakah itu menipu Tuhan? Demi menghilangkan

    rasa berdosa, dilakukanlah tindakan yang tampak agamais. Ah, Tuhan saja dikadali,

    apalagi manusia?

    “Setidak-tidaknya kan menurut agama sah, bok! Jadi nggak merasa berdosa lagi.”

    Aku tidak bisa berkata-kata. Hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

    Namanya manusia ya, sejahat apapun atau sesalah apapun tindakannya, pasti masih punya

    nurani yang mengatakan bahwa hal yang dilakukannya salah. Kemudian untuk berdamai

    dengan nurani itu dilakukanlah tindakan pembenaran atau membayar kompensasi.

    Tiba-tiba aku teringat film-film yang bertema mafia. Boss mafia selalu digambarkan kejam

    dan melakukan berbagai pekerjaan kotor. Tangan mereka bersimbah darah. Para mafia itu

    sadar bahwa apa yang mereka lakukan tidak benar menurut kemanusiaan apalagi Tuhan.

    Dan untuk menutupi rasa bersalahnya dia menyumbang materi yang sangat besar bagi

    gereja tempatnya beribadah dan membangun fasilitas umum untuk komunitas di sekitar

    tempat tinggalnya.

    Sikap yang sangat kontras.

    Seperti perusahaan-perusahaan perusak alam, supaya tetap punya nama baik di

    masyarakat dan konsumen produknya, dia banyak memberikan sumbangan pada kegiatan-

    kegiatan sosial dan pendidikan. Dimana logikanya? Mereka yang menggunduli hutan

    dan merusak lapisan bumi kemudian mendukung penghijauan dan berkoar-koar tentang

    pentingnya penghijauan dilaksanakan. Kalau memang mereka sadar lingkungan, tentu

    mereka tidak akan menggali lapisan-lapisan tanah itu hingga kedalaman ratusan meter dan

    menghancurkan ekosistem puluhan hingga ratusan hektar.

    Aku menatap Nan dengan pandangan tidak percaya. Tapi aku tak mampu mengucapkan

    sepatah kata pun. Kemudian aku menunduk dan menggeleng-gelengkan kepala. Aku tahu

    wajahku memerah.

    “Itu hanya pikiran selintas aja, Cha! Kayanya sulit juga dilaksanakan. Kalau ketahuan, Isar

    bisa bunuh Ricky kali.”

    “Syukurlah kalau lu sadar itu nggak mungkin dilaksanakan. Gue nggak ngebayang aja elu

    poliandri. Dan pliss, pikiran gila lu itu jangan dilanjutkan.” Aku berdiri.

    Nan menatapku.

    “Sorry, gue harus segera cabut. Ada janji.”

    “Oh. Sorry sudah nahan lu!”

    Aku buru-buru keluar dari ruang meeting. Aku yakin Nan juga tidak langsung pulang walau

    tidak ada kerjaan di kantor. Paling tidak dia akan makan malam bersama Ricky.



    Sekarang aku sudah telat empat puluh menit. Padahal tadi saat baru keluar dari kantor, aku

    membaca DM-nya (Direct Message di Twitter) yang mengatakan bahwa dia sudah sampai

    di cafe tempat kami janjian. Biasanya parkir penuh jam segini, lebih baik aku memakai jasa

    valet saja. Aku bergegas masuk ke dalam mall. Ada rasa senang, ketakutan, penasaran

    dan nafsu setiap kali kakiku menjajak di mall berlantai marmer ini.

    Hatiku berdebar. Aku kembali dapat merasakan sensasi deg-degan yang sama seperti saat

    jatuh cinta pada usia remaja. Sensasi ini sungguh menegangkan sekaligus menggairahkan.

    Kini aku bukan remaja lagi. Angka 32 menghiasi kue ulang tahunku lima bulan lalu. Tapi

    debaran di dada ini masih sama seperti ketika aku jatuh cinta pertama kali, kedua dan

    seterusnya.

    Kalau dihitung dengan cinta monyet, ini adalah jatuh cintaku yang ke enam. Tidak terlalu

    banyak dan tidak minim juga. Aku mulai jatuh cinta pada yang ke enam ini saat akrab

    dengan sebuah akun di twitter. Aku mengenal microblog ini setahun lalu. Akunku memakai

    nama anonim artinya tidak menggunakan namaku yang sebenarnya. Aku sengaja, supaya

    dapat menulis apa saja yang mau kutulis tanpa diketahui orang lain siapa aku. Dibanding

    para selebtwit, tentu aku bukan siapa-siapa. Followerku masih dua ratusan, jauh lebih

    sedikit dari pada akun yang kufollow. Itu tandanya aku masih di kelas kambing di dunia

    twitter.

    Tapi itu bukan masalah, karena bagiku twitter adalah alat untuk menyalurkan kekesalan,

    amarah, dan canda bernuansa jorok. Aku cuman ingin bersenang-senang, bukan mencari

    follower. Aku suka media ini karena bisa dengan leluasa menyuarakan apa saja, termasuk

    menyumpahi pemerintah, menyindir artis yang sok kecakepan, atau meneriakkan kerinduan

    yang terlarang. Tak mungkin kutuliskan semua itu di facebook yang sebagian besar

    temanku adalah orang yang mengenalku dan keluargaku. Itulah sebabnya mengapa

    banyak orang yang memakai akun anonim di twitter. Ada kebebasan dan kemerdekaan

    bersuara, tentang apa saja.

    Aku lupa dulu pernah ngetwitt apa, kemudian sebuah akun mengkomentari tweet tersebut

    dan aku membalasnya. Kejadian itu mungkin sekitar empat bulan lalu. Sejak itu akun yang

    bernama Apasaja itu selalu hadir membalas twitku. Awalnya kita berdua bersikap formal.

    Saling menanya kabar. Saling cerita masa lalu, dilanjut saling cumbu rayu. Ya, saling

    cumbu rayu sangat biasa di twitter. Bagiku itu hanya iseng. Tidak akan kemana-mana,

    kupikir. Aku tidak kenal dia, dia tidak kenal aku. Dia memakai avatar atau photo profil yang

    bukan gambar manusia di twitternya, aku pun demikian.

    Rayuan berbobot ringgan hingga berat mulai terlontar. Bila sudah menjurus vulgar,

    pembicaraan pindah ke jalur Direct Messege, jalur pribadi sehingga orang lain tidak bisa

    membacanya. Aku menikmati pembicaraan itu. Aku seakan bercumbu dengan figure

    yang hanya ada dalam fantasiku. Dengan leluasa aku memvisualisasikan profilnya.

    Diimajinasiku, dia adalah campuran Blake Shelton, Leonardo De Caprio dan Matt Damon.

    Ya, aku memang sangat menyukai figur-figur jantan itu. Terasa nyaman dipelukan Blake

    yang berpostur tinggi besar, dan aman di dekat Matt Damon karena membayangkan

    kelincahannya berkelahi sebagai Bourne dan kegantengan wajah Leo pada masa mudanya.

    Aku menikmati fantasiku yang liar.

    “Tidurnya pakai apa malam ini, Beb” tulisnya di DM. “Bebeb suka aku pakai apa?” balasku.

    “Hmm.. aku lebih suka kamu nggak pakai apa-apa.” Jawabnya cepat. “Nggak masalah, tapi

    kamu yang bukain ya! Aku malas buka sendiri.” Kataku lebih liar, sambil membayangkan

    Bourne yang membuka baju tidurku.

    “Kok baru keliatan, Beb? Ngapain seharian ini?” katanya suatu malam. “Di kantor tadi

    banyak banget kerjaan. Aku capek banget hari ini.” balasku. “Mau aku pijit? Aku paham

    banget loh urat-urat wanita.” katanya. “Aduh mau banget, Beb. Tegang banget nih!”

    jawabku. “Nanti aku lemaskan. Etapi Bebeb lemaskan aku juga ya! Ada yang ikutan tegang

    disini.” Oh, rasanya nyeeesss, aku langsung melayang ke langit ketujuh. Terasa Leo

    memijit kakiku perlahan dengan penuh sensasi, kemudian naik, naik dan terus naik.

    “Beb, aku tidur dulu ya, besok pagi ada meeting sama client.” Twitku setelah beberapa

    saat saling menanya kabar. “Bobok bareng dong, Beb!” tulisnya. “Boleh. Peluk aku dari

    belakang ya!” balasku. “Ouch, itu posisi yang sangat berbahaya. Semoga adikku nggak

    bangun ya!” balasnya cepat. Aku tertawa dalam hati membayangkan Blake memelukku

    dengan tanggannya yang kekar dan besar itu. Terasa hangat, walau hanya dalam

    bayangan.

    Begitulah beberapa contoh percakapan panas kami melalui twitter. Dan aku sungguh-

    sungguh menikmatinya. Aku bisa bermain dengan figur-figur yang menjadi idolaku itu. Dia

    pernah meminta PIN blackberry atau alamat Facebook-ku. Tapi aku tidak pernah mau

    memberikannya, karena aku tidak mau dia tahu siapa aku, dan juga aku tidak ingin melihat

    foto aslinya. Alasanku, kita sama-sama tidak eksis dalam dunia sebenarnya. Biar saja

    seperti ini. Tapi ternyata kami tidak hanya puas di dunia maya. Terbersit keinginan untuk

    bertemu di dunia nyata. Sebenarnya dia yang paling ingin untuk bertemu. Aku, antara ingin

    dan tidak. Tapi akhirnya aku setuju bertemu. Kemudian kami janjian bertemu malam ini

    sambil merayakan ulang tahunnya yang telah lewat seminggu lalu.

    Tempat dan waktupun ditentukan. Aku tetap tidak mau memberikan PIN blackberry ataupun

    nomor ponselku. “Kita komunikasi pakai DM ini saja. Nanti kita saling tukar PIN kalau

    sudah bertemu.” kataku. Tidak mungkin dia protes.



    Langkah kakiku semakin dekat ke cafe tempat kami janjian. Aku memejamkan mata. Ada

    ketakutan yang tiba-tiba menyusup dalam hatiku. Bagaimana sekiranya penampilannya

    jauh dari profil yang kubayangkan selama ini? Bagaimana kalau dia gendut dan… dan… ??

    Aku tidak berani melanjutkannya. Aku takut reaksiku akan segera berubah menjadi dingin.

    Atau, bagaimana sekiranya dia super duper ganteng menyerupai profil-profil idolaku itu, dan

    ternyata dia mendapatiku seperti ini adanya? Mungkin dia juga membayangkan aku seperti

    Luna Maya atau Ayu Ting-ting yang masih kinyus-kinyus. Dan aku pasti seperti si bebek

    buruk rupa dibandingkan Luna Maya atau Ayu Ting-Ting.

    Bagaimana pula sekiranya dia sesuai profil yang kubayangkan dan aku menyukainya, tapi

    dia tidak menyukaiku? Tiba-tiba saja rasa percaya diriku turun sampai titik nol. Ampun, apa

    yang harus kuperbuat? Aku semakin khawatir. Langkahku terhenti persisi disebelah cafe

    yang kutuju. Aku menjadi ragu untuk melanjutkan langkah. Kakiku seperti terpaku pada

    lantai marmer mall ini. Aku melihat ada DM di twitter, pasti dari dia. “Beb, kamu di mana?

    Jadikan ke sini? Buruan ya, Beb! Rasanya sembentar lagi aku mati kedinginan kalau kamu

    tidak muncul”

    Ada gelombang hangat mengaliri darahku yang tadi nyaris membeku. Kembali aku

    mengumpulkan semangat. Bolak-balik aku menyakinkan diri bahwa aku akan baik-baik

    saja. Nothing to lose. “Cha, katanya kamu cuma iseng! Kok sekarang serius dan deg-

    degan gitu sih? Kamu jatuh cinta ya?” kata hati kananku. “Tidak. Ngapain jatuh cinta

    sama orang yang nggak dikenal. Aku memang iseng aja kok.” Kata hati kiriku. “Kalau

    begitu masuk dong! Ngapain seperti anjing kalah berantem gitu!” kembali hati kananku

    menggelitik. Aku langsung menegakkan pundak. “Aku bukan anjing kalah berantem. Lihat

    aku akan masuk dan menemuinya.” kataku membesarkan hati.

    Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Lumayan, terasa lebih ringan.

    Aku melemaskan punggungku dan menghentakkan tanganku sambil mengepalkan telapak

    tangan. Dengan mengucapkan doa singkat aku melangkahkan kaki.

    Café ini bercita rasa Jepang. Tempat duduknya bersekat-sekat, dibatasi oleh kain putih

    seperti kelambu yang diikatkan pada tiang pojok sekat. Kita tidak akan melihat pengunjung

    dari pintu masuk. Pelayan yang berdiri di pintu masuk menanyaiku, “Berapa orang?” Aku

    bilang, temanku sudah ada di dalam. Pelayan itu mengangguk dan dengan gerak tubuhnya

    mengatakan akan mengantarkanku. Aku berjalan perlahan sambil melirik setiap meja yang

    kulewati. Aku seperti berjalan di lorong gelap dan aku tidak tahu apa yang akan kudapati di

    depan sana. Rasanya kakiku seperti digantungi pemberat 100kg pada masing-masing kaki.

    Pelayan muda yang cantik dan ramah itu berhenti di dekat sebuah meja dan tersenyum

    padaku. Silakan, katanya. Aku melihat lelaki berkacamata berbaju biru lengan panjang

    yang digulung sedang menatap serius pada laptopnya.

    Aku kaget luar biasa. Sekali lirik aku bisa bilang dia ganteng, tidak seperti Leo memang tapi

    bisa dapat angka tujuhlah. Dia tidak gemuk, standar eksekutif muda ibukota. Wajahnya

    menyiaratkan kepintaran dan ambisi. Tapi, sebelum dia melihatku, aku harus segera

    menghilang. Tiba-tiba aku ingin sekali punya ilmu penghilang raga atau dapat menciutkan

    tubuh hingga seukuran semut sehingga aku bisa lenyap seketika.

    Ketika aku hendak mengambil langkah seribu, kudengar suaranya memanggil namaku,

    “Cha!” Aku berdiri kaku tak sanggup melihatnya, tapi aku harus menoleh dan bersikap

    sebiasa mungkin. Aku memaksakan senyum yang pasti tidak tampak wajar, tepatnya

    seperti meringis.

    “Hei, kamu disini?” kataku tidak jelas.

    “Iya. Kamu, kamu sendiri?” dia tampak bingung.

    “Eeee…, tadi Wim minta aku nyariin tempat untuk dinner, dia masih di jalan. Ternyata

    sudah penuh.” Untung ilmu ngelesku yang secanggih bajaj masih bisa menyelamatkanku.

    Kurasa.

    “Itu masih ada yang kosong, mbak!” kata pelayan yang masih berdiri di dekatku. Tiba-tiba

    aku ingin menampar wajah manisnya itu. Aku kembali mengeluarkan senyum menyeringai

    sambil mengelengkan kepala. Aku melirik lelaki berkemeja biru itu memijat keningnya. Dia

    tampak kebingungan. Keringat dingin membanjiri tubuhku.

    “Kamu nggak lembur, Cha? Tadi Nan bbm aku, dia lembur katanya.”

    Aku memejamkan mata.

    “Nan aja yang lembur. Aku mau dinner sama lakiku malam ini. Yuk, Sar! ”

    Gemuruh di dadaku semakin membahana. Aku berusaha tersenyum padanya.

    “Salam sama Wim ya, Cha! Oh iya, anak-anakku kangen tuh sama anakmu. Kapan-kapan

    kita maen bareng lagi ya!”

    Aku mengangguk tapi tidak berani lagi menatapnya. Aku mengayunkan langkah pertama

    saat kudengar dia berucap, “funNme!”

    Aku pura-pura tidak mendengar dan meneruskan langkahku keluar dari restoran Jepang

    itu. kakiku semakin cepat dan semakin cepat seperti hendak berlari. Hanya satu yang ingin

    kulakukan sesegera mungkin: membunuh “funNme” selama-lamanya.


    sumber
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  2. # ADS
    Circuit advertisement
    Join Date
    Always
    Location
    Advertising world
    Posts
    Many
     

  3. #2
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    dunia sudah gila, nafsu nomor satu....
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  4. #3


    Join Date
    Oct 2011
    Location
    Bogor
    Posts
    40
    Thanks
    96
    Thanked 6 Times in 4 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Sepercik Bara Asmara di Twitter

    Wew.. maksudnya social media dan micro blogging sekarang sudah bisa jadi media perselingkuhan baru ya..? Mantap juga,, cuma si cha lebih logis lah karena cuma cari teman fantasi.. daripada temennya.. hehehe

    Sent from my PG06100 using Tapatalk 2

  5. #4


    Join Date
    Jun 2013
    Posts
    4
    Thanks
    1
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    sumpeh dah socmed emng bner2 dahsyat gtu pengaruhnya di khidupan qta

  6. #5


    Join Date
    Jul 2013
    Posts
    11
    Thanks
    53
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    nice cerpen and endingnya bagus...

  7. #6

    kupu2airterjun's Avatar
    Join Date
    Jun 2013
    Location
    bukan di hatimu
    Posts
    1,073
    Thanks
    371
    Thanked 373 Times in 312 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    1 Thread(s)

    Default

    hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.................. baru baca setengah langsung berenti.

    ceritanya dewasa

    aku salah masuk nih

    1. saya memang suka mengganggu. Tapi ada saat-saat saya benci diganggu.
    2. memaksakan teorimu kepada orang lain, bukanlah tindakan yang bijak.
    3. saya benci peraturan.



  8. #7


    Join Date
    Jul 2013
    Posts
    3
    Thanks
    4
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    wah ini bukan dari kisah nyata kan hehehe

  9. #8


    Join Date
    Aug 2013
    Posts
    32
    Thanks
    12
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    hmmmmm... ending yang menarik

  10. #9

    sysiconz's Avatar
    Join Date
    May 2012
    Posts
    87
    Thanks
    45
    Thanked 4 Times in 3 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    good story dan realitas kehidupan sekarang ya begitu .. dulu saya juga berada di lingkaran yang sama, sejujurnya kita harus mengakui bahwa kita manusia tidak pernah puas dan kurang bersyukur dengan yang kita miliki ..

  11. #10

    restonas007's Avatar
    Join Date
    Dec 2012
    Location
    depan PC bawah kolong
    Posts
    2
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    wahh... cerpenNya keren gan...
    dari kisah nyata ato ngak nih??

Similar Threads

  1. ZT Bara ZooTemplate Premium Joomla 1.6 Template
    By budax_laut in forum Webmaster
    Replies: 0
    Last Post: 04-05-2011, 12:57 PM

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •