Join Indofiles VIP IndoLocker.com - We here to Share

User Tag List

Page 1 of 20 12311 ... LastLast
Results 1 to 10 of 194

Thread: Jingga

  1. #1
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Jingga

    Ini adalah share cerita kedua saya setelah cerbung yang satunya sudah selesai (Setelah Kau Menikahiku).

    Cerita ini Karya Alanda Kariza, 11/02/2007 13:29 - 14/09/2007 20:43..

    So enjoy this story.....
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  2. # ADS
    Circuit advertisement
    Join Date
    Always
    Location
    Advertising world
    Posts
    Many
     

  3. #2
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    jingga
    Alanda Kariza

    Jingga menggabungkan energi warna merah dan keceriaan warna kuning. Jingga
    berhubungan dengan kebahagiaan, cahaya matahari dan daerah-daerah tropis. Jingga
    mewakili antusiasme, kepuasaan, keceriaan, kreativitas, kegigihan,
    ketertarikan, kesuksesan, dukungan dan stimulasi.

    Di mata manusia, jingga adalah warna yang “panas”, sehingga memberi sensasi
    kehangatan tertentu. Meskipun begitu, warna jingga tidak seagresif warna merah. Jingga
    meningkatkan suplai oksigen ke otak, memproduksi efek invigoratif dan menstimulasi
    aktivitas mental. Jingga sangat diterima oleh kaum muda. Sebagai salah satu warna
    sitrus, jingga dihubungkan dengan makanan sehat dan meningkatkan selera. Jingga
    adalah warna musim gugur dan masa panen. Jingga juga merupakan simbol kekuatan dan
    ketegaran.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  4. The Following User Says Thank You to zoeratmand For This Useful Post:


  5. #3
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    1 - Home

    Awal Juni 2006

    NAMA SAYA LANGGE. EHM, ERLANGGA GANESHA.
    Kemarin saya baru saja dinyatakan tamat SMA. Saya dan teman-teman
    seangkatan mencorat-coret baju dengan cat aerosol spray. Pfft. Hal yang tidak berguna
    sebenarnya. Mereka mencoret pakaian saya hingga putih kemeja tak lagi kelihatan.
    Sementara saya hanya mau diwarnai dengan warna jingga. Hanya itu. Warna yang
    paling saya sukai.

    Bagaimanapun juga, semuanya hanya akan terkristalisasi, menjadi kenangan.
    Mau mereka menyablon kemeja SMA dengan foto kami satu angkatan pun, semua tetap
    saja cuma akan jadi kenangan. Kenangan... Suatu hal yang tidak dapat saya reguk. Yang
    manisnya tidak bisa saya teguk. Cuma bisa dilihat, atau minimal, kita bayangkan. Itupun
    kalau kita cukup imajinatif dan bisa membedakan mana yang dulu benar-benar pernah
    terjadi, atau hal-hal yang dulu inginnya terjadi. Realitas dan harapan memang tipis
    perbedaannya. Saya rasa saya belum cukup dewasa untuk bisa memilih satu di antara
    itu. Saya ingin harapan saya menjadi realitas. Sayangnya, realitas yang terjadi tidak
    sesuai harapan saya.

    Saya memilih mengikuti SPMB, semata-mata hanya untuk memuaskan mereka.
    Mereka, keluarga saya. Mereka, guru-guru saya. Mereka, teman-teman saya. Orangorang
    yang percaya bahwa saya akan menjadi seseorang yang sukses suatu hari nanti.
    Definisikan sukses. Saya punya deskripsi kata “sukses” yang berbeda dengan deskripsi
    yang mereka buat. Tetap saja pada akhirnya, saya mengalah dan memilih fakultas
    kedokteran, karena kedokteran adalah fakultas yang paling diinginkan oleh keluarga.
    Ah, sebenarnya siapa yang mau kuliah? Saya atau keluarga?

    Jujur saja, saya sudah lelah dengan semuanya. Semua realitas yang terjadi, atau
    harapan orang lain yang harus saya wujudkan, sementara mereka tidak pernah
    mewujudkan harapan saya. Padahal, menurut saya, semua orang memiliki mimpi dan
    berkewajiban untuk mewujudkan mimpi mereka masing-masing. Semua manusia punya
    porsi sendiri-sendiri, yaitu tidak boleh mencuri mimpi orang lain serta lalu
    mewujudkannya. Setiap manusia harus membuat rencananya sendiri-sendiri, dong.

    Saya punya mimpi dan cita-cita. Sebetulnya, tentu saja saya berhak mewujudkan
    itu semua, sesuai dengan mau saya. Namun, latar belakang dan kebaikan orang-orang di
    sekitar saya, membuat saya sungkan untuk mewujudkannya. Semua kondisi tidak
    mendukung untuk menolak permintaan-permintaan mereka. Meskipun sebenarnya, saya
    berhak. Saya berhak menolak keinginan orangtua. Saya sangat berhak. Siapapun “orang
    lain” itu, tentu saja tidak berkesempatan mendikte hidup saya. Kepemilikan hidup saya
    pada tangan saya tentu saja absolut. Tidak bisa diganggu-gugat, tidak relatif, tidak
    akomodatif. Hanya punya saya. Mungkin terdengar egois, tetapi itulah keadaannya.

    Saya punya mimpi untuk pergi keliling dunia. Karena, saya lebih mempercayai
    suatu ilmu yang kita dapat langsung dari alam dibandingkan dari manusia. Buku pun
    ditulis oleh tangan-tangan manusia. Sementara alam? Mereka ditulis oleh tangan-tangan
    Tuhan, tangan-tangan yang tidak terhingga jumlahnya dan sudah pasti sempurna. Alam
    tidak pernah selicik manusia hingga memiliki keinginan untuk berbohong. Karya yang
    mereka berikan sudah tentu murni, tidak minta bayaran, tidak minta pamrih, tidak minta
    jabatan, bahkan sedikitpun ucapan terima kasih.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  6. #4
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Langge melangkah turun dari bis kota di dekat sebuah masjid. Ia membenarkan
    posisi tas ransel yang tergantung di bahunya —meski isinya tidak begitu penting. Ponsel
    monokromnya Ia simpan di saku celana jins lusuh yang entah kapan terakhir kali Ia cuci.
    Di dalam tasnya hanya ada jaket dan kaus ganti yang selalu Ia bawa ke mana-mana, dan
    jurnal perjalanannya. Oh iya, sekantong plastik kresek berisi makanan kecil—untuk anakanak
    kecil tentunya.

    Sepertinya hari ini tidak akan ada hal apapun yang spesial, mengingat baru saja
    kemarin Ia dinyatakan tamat SMA dan kemungkinan besar banyak hal yang harus Ia urus
    di sekolah. Mungkin belum liburan. Langge sebentar lagi ulangtahun kedelapanbelas, di
    mana berarti Ia masih berumur tujuhbelas tahun saat ini. Ia berjalan masuk ke dalam
    sebuah panti asuhan yang memang rutin dikunjunginya setiap Hari Selasa sore.

    Menyapa pengasuh anak-anak yatim-piatu di sana. Langge menyempatkan diri
    menengok dua anak penderita hydrocephalus yang dirawat di bangsal khusus: Ayu dan
    Wisnu. Langge hanya memberi sepatah-duapatah kata dan senyum tulus—karena
    menurutnya itu sudah cukup mengurangi beban Ayu dan Wisnu. Terus terang, Langge
    tidak sanggup berbuat apa-apa kepada mereka. Karena Ia tidak mengerti, harus apa.

    Melihat Ayu dan Wisnu setiap minggunya, membuat Langge bisa sangat jauh
    lebih menghargai hidupnya, dan keluarganya, yang kerap kali Ia caci-maki di dalam hati.
    ‘Kenapa orangtua gue konservatif. Kenapa mereka cuma mau gue jadi dokter. Kenapa
    mereka cuma melihat nilai Fisika gue (yang untungnya bagus) dibandingkan nilai Seni.

    Kenapa mereka nggak pernah mau nonton gue manggung. Kenapa mereka gak pernah
    membelikan tiket konser atau pagelaran teater buat gue. Kenapa mereka menentang gue
    masuk IKJ4. Kenapa mereka gak ngasih santunan supaya gue bisa keliling dunia.’ Dan
    kenapa-kenapa-kenapa yang lainnya. Tetapi, setiap Selasa sore (dan kadang-kadang
    sampai Selasa sore berikutnya), Langge bersyukur. ‘Paling tidak gue punya keluarga.’

    Ia melangkah menuju ruangan tempat para bayi dirawat, di mana mereka
    merangkak dan bermain bersama para pengasuh berpakaian seragam berwarna putih.
    Kebanyakan dari perawat-perawat itu mengenakan jilbab meskipun masih muda. Langge
    menyapa Fabian, bayi yang baru lahir dua bulan yang lalu. Sebenarnya tidak diketahui
    secara pasti, tetapi orangtua Fabian meninggalkannya di depan pintu yayasan panti
    asuhan tersebut sekitar dua bulan lalu, saat Fabian masih merah.

    Ia begitu menyukai Fabian. Selain namanya yang terdengar bule, rambutnya juga
    agak pirang dibandingkan dengan bayi lainnya. Meskipun setelah dipikir-pikir, agak
    mustahil juga pasangan turis membuang bayinya ke panti asuhan ini. Langge masih
    menganggap betapa konyolnya orangtua yang membuang anaknya sia-sia seperti itu.
    Seperti orangtuanya. Bagaimanapun juga, anak adalah titipan Tuhan yang paling
    berharga dan harus dirawat baik-baik. Tidak adakah cara yang lebih manusiawi bagi
    sepasang orangtua untuk meminta orang lain merawat anak mereka? Selain Fabian,
    Langge juga menyapa bayi-bayi yang lain.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  7. #5
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Tidak jarang Langge berpikir, kenapa Fabian yang begitu tampan bisa disiasiakan
    oleh kedua orangtuanya dengan cara yang tidak manusiawi. Meletakkannya hanya
    berselimut bedong tipis di lantai, di depan pintu panti asuhan. Tidakkah iba ibunya?
    Sementara banyak wanita-wanita lain yang begitu mendambakan anak.

    Setelah menghabiskan kira-kira limabelas menit dengan menyaksikan tingkah
    laku bayi-bayi mungil yang lucu-lucu, Langge melangkah menuju tempat anak-anak
    berusia sekitar enam tahun ke bawah bermain game dan menyantap makan sore.
    Kehadirannya disambut ceria oleh anak-anak itu. “Kakak Langge!” teriak mereka tanpa
    henti. Langge tersenyum bahagia melihat tawa mereka yang ceria.

    Ia mengeluarkan isi kantong plastik kresek yang dibawanya. Ada cokelat, permen
    dan kudapan lainnya yang terlihat begiu lezat. Akilla, Reno dan Oppie terlihat begitu
    bersemangat menerima cokelat pemberian Langge—seperti biasanya. Yang lainnya yang
    kebagian keripik pun tidak begitu kecewa. Tapi, ada satu anak yang menyita perhatian
    Langge karena belum pernah Ia lihat sebelumnya. Ditambah lagi, anak itu usianya
    mungkin dua kali lipat dari anak-anak yang lain. Ia berusia sekitar 10 tahun.

    "“Itu yang di pojok siapa? Sini, ayo, mau cokelat dari Kakak juga nggak? Masih
    banyak lho. Sini, ayo. Kenalan dulu sama Kakak Langge…”..." ajak Langge dengan sabar.
    Salah satu pengasuh yang bernama Lita pun angkat bicara, membantu Langge untuk
    membujuk anak itu yang masih saja berdiri di pojok, menempel ke tembok.

    Sepertinya Ia baru saja mandi. Rambutnya diikat tinggi dan berponi, mengenakan
    gaun berkerut-kerut di bagian dada dan perut, bermotif kotak-kotak dengan warna biru
    dan merah muda. Ia terlihat manis sekali, dengan kulitnya yang putih dan bibirnya yang
    mungil.

    "“Ga, ayo kamu ke sana. Itu namanya Kakak Langge, dia baik kok, dia suka bawa
    makanan. Kamu gak laper, Ga?"” tanya Lita.

    Anak itu menggeleng pelan, takut-takut. Langge tersenyum tipis mendengarnya.

    "“Nggak apa-apa kok, Mbak Lita. Ini Mbak aja yang pegang cokelatnya, nanti kalau dia
    udah mau, Mbak aja yang kasih. Emangnya namanya siapa, Mbak?"” tanya Langge, pelan,
    karena Lita berada tidak jauh darinya.

    "“Jingga."

    Kenapa saya menyukai warna jingga? Warna yang relatif tidak lazim disukai
    anak laki-laki. Tapi, sejak kecil saya suka warna jingga dan kukuh menyebutnya dengan
    kata ‘jingga’. Bukan orange, apalagi oranye. Menurut saya kata ‘jingga’ adalah sebuah
    kata yang indah, seindah dan secerah warnanya.


    "“HAH?"” Langge terdengar kaget setengah mati mendengar nama anak perempuan
    itu disebutkan oleh Lita.

    "“Jingga…”.." ulang Lita. Wow, gumam Langge di dalam hatinya. Lucu sekali! Ia
    jadi tertarik untuk mengetahui tentang Jingga lebih lanjut.

    "“Dia baru ya, Mbak? Gimana ceritanya kok bisa sampai di sini?"” tanya Langge
    antusias. Lita pun antusias menceritakan tentang Jingga.

    Katanya, Jingga datang pada Hari Minggu kemarin ke panti asuhan. Menurut
    Jingga, Ia kabur dari ‘rumah’ tempat Ia biasa tidur, dari keluarganya, karena Ia seringkali
    dipukuli ayahnya. Ibunya sudah pergi, entah ada di mana. Dulu katanya kerja di luar
    negeri, tetapi tidak kunjung pulang. Ayah Jingga adalah preman yang (tentunya) galak,
    pemabuk dan tukang judi. Karena Jingga tidak tahan, pada Hari Jumat subuh Jingga lari.
    Lari tanpa arah yang jelas, hanya ke mana kakinya melangkah dengan cepat. Tidur di
    manapun Ia bisa, sampai Ia berhenti dan menemukan sebuah panti asuhan, di mana Ia
    melihat anak-anak kecil bermain dan bernyanyi bersama di halaman. Jingga masuk ke
    sana.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  8. #6
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Langge mengangguk-angguk mengerti sekaligus kagum mendengarnya.
    Bagaimana mungkin, remaja-remaja wanita di Jakarta bisa diperkosa padahal mereka
    sudah tahu banyak kriminalitas, sementara anak perempuan berumur 10 tahun yang polos
    ‘terombang-ambing’ di jalanan selama 2 hari tanpa cacat sedikitpun dan tanpa keluhan?
    Sungguh dunia yang aneh.

    Ketika hari mulai petang, Langge melangkah menaiki bis kota. Pulang.
    Sepanjang perjalanan pulang, Ia tidak lagi memikirkan mengenai anak ‘ajaib’
    yang bernama Jingga itu. Sekarang Ia justru mengingat-ingat pacarnya ketika masih
    duduk di kelas 1 SMA dulu. Seseorang yang selalu Ia rindukan, yang entah kenapa,
    Jingga mengingatkan dirinya akan sosok itu.

    Namanya Ebiet. Kutubuku dan cewek paling pintar di angkatannya yang mencuri
    hati Langge. Bahkan, boleh dibilang, Ebiet merupakan satu-satunya cewek yang pernah
    mengisi hati Langge. Sampai saat ini. Langge tidak pernah tertarik dengan wanita lain,
    tidak pernah dekat wanita lain. Bukan saja karena Ia anti-sosial, tetapi Ia juga terlalu
    mencintai Ebiet sampai-sampai tidak mampu melupakannya.

    Apa yang terjadi sampai-sampai cinta itu harus kandas di tengah jalan? Baru
    sekitar 2 bulan berpacaran, Ebiet mendapat beasiswa untuk menempuh bangku SMA di
    Singapura dari ASEAN. Sama seperti Langge, Ebiet juga bercita-cita supaya bisa pergi
    travelling keliling dunia, mengenal orang dari berbagai kultur. Ebiet akan disekolahkan
    di sebuah sekolah international, Singapore Overseas School, sehingga Ia tidak mungkin
    menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.

    Pada awalnya, semua hal berjalan indah-indah saja, dan tentu saja menyenangkan,
    terutama bagi Ebiet. Namun ternyata, Ebiet tidak menganut faham long-distance
    relationship
    . Di winter holidays pertamanya, ketika Ebiet pertama kali pula pulang ke
    Indonesia, Ia memutuskan hubungan mereka. Atau lebih tepatnya, menunda, yang entah
    sampai kapan. Sejak saat itu, Langge bertekad bahwa Ia ingin menunggu gadis pujaan
    hatinya. Selalu. Meskipun sepertinya... hal itu tidak masuk di akal.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  9. The Following 2 Users Say Thank You to zoeratmand For This Useful Post:


  10. #7

    Macece's Avatar
    Join Date
    Nov 2012
    Location
    Di Rumah
    Posts
    149
    Thanks
    77
    Thanked 67 Times in 54 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    salam kenal...
    ceritanya bagus nih Om...
    di tunggu episode selanjutnya....

  11. The Following User Says Thank You to Macece For This Useful Post:


  12. #8
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    2 – Remould in An Afternoon


    SORE YANG PANAS.
    Langit yang birunya tidak kelihatan, terkena percikan sinar mentari yang
    berwarna jingga, membuat Langge agak betah menikmatinya. Yang tidak pas hanya
    suhunya saja. Hari itu sangat indah menurutnya.

    "“LANGGE!”" teriak suara lembut itu. Langge, yang sedang melihat-lihat buku - buku
    fotografi second-hand, segera menengok. Sesosok wanita mungil berbalut kaus dan
    celana jins, yang sangat Ia sayangi. Bibirnya menyunggingkan senyum tanpa diperintah.

    "“Ebiet."” Satu kata terucap dari bibirnya, dengan nada yang datar, tapi bahagia.
    Rindu yang kemarin-kemarin sudah membeku, seolah-olah takkan pernah sirna dari
    dalam hatinya, kini menghilang, terbakar, dan lalu meleleh. Terasa lagi di dalam
    kalbunya, meskipun agak sedikit sakit. Panas. Sepanas cuaca siang ini.

    "“Lama ya nggak ketemu"…” Kalimat itu yang terucap oleh Ebiet. Rambut Ebiet
    diikat tinggi— - hal yang sangat wajar mengingat udara hari ini panas sekali. Entah
    mengapa, Langge selalu suka melihat rambut Ebiet ditata seperti itu (meskipun Langge
    selalu menyukai Ebiet bagaimanapun Ia berpenampilan). Pipinya yang tembem terlihat
    makin menggemaskan, leher Ebiet pun begitu jenjang...

    "“Ngapain kamu di sini?"” tanya Langge bingung, sambil berusaha mencairkan
    suasana. Ups. Ia mengatakannya seolah-olah Ia tidak menyukai kehadiran Ebiet di sana.
    Padahal, apa yang Ia rasakan justru sebaliknya. Saat gugup, neurotransmitter pada
    tubuhnya memang sering salah mengirim sinyal-sinyal pada neuron selanjutnya.
    Terutama sekali, untuk memulai pembicaraan. Sebenarnya sejak tadi, Ia hanya ingin
    bilang, “Ya ampun, aku kangen banget banget, banget sama kamu, Ebietku.”

    "“Tadi aku naik taksi mau pulang, terus lihat kamu di sini... Aku turun aja di sini,”"
    jawab Ebiet dengan santainya. Thank God she’s not pissed, phew. Ia melihat buku-buku
    yang Langge dekap, meskipun mungkin tidak satupun dari buku-buku itu yang akan
    Langge beli.

    "“Wah, aku naik bis. Emangnya kamu nggak apa-apa naik bis gitu? Cewek kayak
    kamu itu harusnya naik mobil... Pakai supir...”" tukas Langge.

    "“Ih, emangnya Ebiet cewek apaan sih?!"” protes Ebiet.

    “"Ya, ya. Ebiet hebat kok, sama monster aja berani, tapi sama air takut!"” ledek
    Langge, diikuti tawa renyahnya. Ia meletakkan buku-buku yang (tentu saja) tidak jadi Ia
    beli. Ia tidak ada uang, hanya mau melihat-lihat saja ke emperan penjual buku bekas itu.

    "“IIIIHH! Itu kan karena Ebiet pernah kelelep waktu SD, tau! Sampai pingsan!"
    sanggah Ebiet lagi, tidak terima ejekan Langge yang menurutnya semena-mena itu.
    Langge menikmatinya. Sangat menikmatinya.

    Obrolan itu mengalir secara alami dan hangat, seperti biasanya.

    Itu adalah Ebiet. Ya, Ebiet yang pacar pertama Langge itu. Mereka berpacaran
    ketika mereka berdua masih duduk di kelas 1 SMA. Ketika sedang hangat-hangatnya
    berpacaran, tiba-tiba Ebiet melanjutkan sekolah ke Singapura. Meskipun bisa dibilang
    jarak antara Singapura dan Indonesia cukup ‘'dekat'’, Ebiet melanjutkan di sana berkat
    beasiswa, karena keluarganya bukan keluarga yang berada. Biasa-biasa saja. Efeknya,
    Ebiet tidak bisa sering-sering pulang ke Jakarta. Daripada dibanjiri airmata dalam kangen
    yang tak kunjung padam, Ebiet memilih untuk memutuskan hubungan mereka.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  13. #9
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Tidak sia-sia memang. Meskipun Ia menangis tidak karuan ketika memutuskan
    hubungannya dengan Langge, Ia berniat melupakan gita cinta itu dengan cara belajar
    terus menerus. Hasilnya, Ebiet mendapat nilai A untuk 6 mata pelajaran di SMA-nya,
    Singapore Overseas School, yang terletak di belakang Orchard Road. Nilai tersebut
    termasuk untuk 3 mata plajaran wajib, yakni Science, English dan Math. Ini adalah kali
    kedua Ebiet pulang ke Indonesia. Di kali pertamanya, adalah saat Ebiet memutuskan
    hubungan mereka.

    Terus terang, Langge tidak pernah berhenti menyayangi Ebiet. Ia tidak pernah
    berusaha mencari orang lain untuk menggantikan gadis itu, tidak pernah sama sekali. Ia
    belajar dengan giat tanpa beralasan untuk melupakan Ebiet. Hanya ingin belajar saja,
    supaya Ia sedikit terlihat pintar di mata kedua orangtuanya, dan di mata gadis yang Ia
    cintai.

    “"Kamu kapan ke Singapore lagi?"” ujar Langge. Menghitung-hitung, kira-kira
    berapa lama waktu yang Ia butuhkan untuk menikmati indahnya cinta yang bersemi di
    antara mereka berdua. Karena Langge tahu, perasaan Ebiet pun sama seperti dirinya.
    Perasaan yang terbalas itu hanya terganjar oleh besarnya jarak, sekaligus sempitnya
    waktu yang mereka miliki.

    “"Masih lama kok… 2 bulan lagi, sekitar 7 minggu...… Aku masuk lagi Bulan
    Agustus, sekarang lagi summer holidays."” jawab Ebiet.

    Bagus, batin Langge di dalam hatinya. Ia merasa punya banyak waktu yang bisa
    dihabiskan bersama Ebiet. "“Teman-temanku banyak yang ikut school trip ke Jepang.
    Biayanya sebenarnya murah, tapi aku nggak punya cukup uang, karena nggak termasuk
    di dana beasiswa yang aku terima. Sebelas juta untuk 8 hari di sana... Lumayan, kan?
    Tapi, aku memilih pulang, daripada kesepian di sana. Lagian, aku kangen Jakarta...”"
    lanjutnya.

    “Aku kangen kamu. Aku selalu kangen kamu, sampai bosen, kangen melulu.”
    Lagi-lagi, kalimat yang mengentaskan kerinduan itu hanya terucap di hati Langge, bukan
    di bibirnya. Harga dirinya bisa jatuh secara signifikan di mata semua orang apabila Ia
    sampai mengutarakan kalimat barusan.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  14. #10
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,252
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Langge bercerita tentang banyak hal. Saking banyaknya, Ia sampai lupa bahwa
    hari ini Ia berencana membeli sepatu olahraga di Lotus. Ia sampai lupa segala hal selain
    mengobrol dengan Ebiet sambil menunggu bis kota, yang juga akan mereka tumpangi
    berdua.

    Langge jadi teringat saat-saat seperti ini. Dulu, di SMA-nya, di halte depan
    sekolah. Mengobrol tanpa mempedulikan orang-orang yang wara-wiri, maupun bis kota
    yang mondar-mandir. Menghabiskan sesorean berduaan saja, hanya membicarakan topiktopik
    yang mereka sukai. Impian-impian mereka. Harapan-harapan mereka berdua.
    Ia sadar, mereka berdua hampir selalu berjalan beriringan, meskipun berbeda dari
    tampak luarnya. Impian Langge keliling dunia dan impian Ebiet ingin menuntut ilmu di
    luar negeri. Minat mereka yang tinggi terhadap karya seni. Langge senang sekali
    memotret, sementara Ebiet begitu berbakat dalam melukis. Kasih sayang terhadap satu
    sama lain yang seolah-olah tiada batasnya.

    Langge tertarik untuk mendengar cerita Ebiet lebih lanjut. Katanya, Ia bosan di
    Singapura. Teman-temannya di sana hampir tiap Minggu ke Zouk! dan The Cannery –
    dua tempat hip di Singapura (clubs, to be exact), yang berpacaran bebas berciuman di
    lorong kelas—persis seperti di film-film remaja keluaran Amerika, orang-orang banyak
    yang individualistis, sementara Ia tergolong dalam kategori “Asian Nerds” di
    sekolahnya. Padahal, penampilan Ebiet sudah banyak jauh berubah dibandingkan ketika
    Ia masih di Indonesia. Ebiet telah mengganti kacamata frame tebalnya dengan contact
    lens, Ebiet telah mengubah “setelan kebangsaan”-nya dari kaus dan celana jins menjadi
    lebih bermacam-macam dan lebih stylish, meskipun tidak juga feminin.

    Pria-pria Singapura berasal dari bermacam-macam bangsa. Mayoritas Cina dan
    Korea, ada juga yang Kaukasian—entah Amerika Serikat maupun Eropa, India, Jepang,
    dan tentunya Indonesia. Di sekolah Ebiet sendiri, bulenya kebanyakan berasal dari
    Norwegia. Dan mereka, tidak ada yang seperti Langge.

    Hari ini pun berjalan jauh lebih indah lagi, di mata mereka berdua.

    * * *
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

Page 1 of 20 12311 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •