Join Indofiles VIP IndoLocker.com - We here to Share

User Tag List

Page 3 of 20 FirstFirst 1234513 ... LastLast
Results 21 to 30 of 194

Thread: Jingga

  1. #21

    cimohai's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    Bandung
    Posts
    227
    Thanks
    249
    Thanked 118 Times in 78 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Quote Originally Posted by zoeratmand View Post
    tenang om, cerita ini bukan hanya sekolah dan kuliah, tapi ebiet dan langge dan "jingga"....
    kayanya dalam cerita ini ebiet dan langge ga akan bersatu

    dan chemistry antara langge dan jingga seperti hubungan saudara atau bahkan jodohnya langge kelak...

    *Another sok tempe from me again

    Btw, ceritanya mendetail banget ya, curiga cerita kali ini lumayan panjang hehe

    Lanjut mas brooowww...

  2. The Following User Says Thank You to cimohai For This Useful Post:


  3. #22

    cimohai's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    Bandung
    Posts
    227
    Thanks
    249
    Thanked 118 Times in 78 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Wah, keknya sibuk nih tsnya...

    Cepet kelar urusannya om, dan lanjutin ceritanya...

  4. The Following 2 Users Say Thank You to cimohai For This Useful Post:


  5. #23
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,177
    Thanks
    1,259
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Quote Originally Posted by cimohai View Post
    kayanya dalam cerita ini ebiet dan langge ga akan bersatu

    dan chemistry antara langge dan jingga seperti hubungan saudara atau bahkan jodohnya langge kelak...

    *Another sok tempe from me again

    Btw, ceritanya mendetail banget ya, curiga cerita kali ini lumayan panjang hehe

    Lanjut mas brooowww...
    Quote Originally Posted by cimohai View Post
    Wah, keknya sibuk nih tsnya...

    Cepet kelar urusannya om, dan lanjutin ceritanya...
    iya om, ada urusan dulu kemarin... ...

    ok, lanjut...
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  6. #24
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,177
    Thanks
    1,259
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    4 – Everything Comes In Three

    SAYA DAN EBIET?
    Saya bertemu dengannya sekitar tiga tahun yang lalu, di awal-awal SMA. Sejak
    menjadi anak berseragam putih-abu, kami memang sering bertemu tatap. Tetapi, saya
    tidak pernah memperhatikannya, apalagi diperhatikan olehnya.

    Ebiet adalah anak yang rajin dan pintar, bahkan sampai sekarang. Ia adalah
    seorang jenius yang berparas cantik, mungkin seperti Natalie Hershlag (well, nama
    bekennya Natalie Portman, tapi saya lebih suka nama aslinya), yang merupakan lulusan
    Harvard University dan menguasai 7 bahasa.

    Ebiet hampir selalu membawa buku tebal ke mana-mana. Kadang novel, antalogi
    puisi, tapi seringnya sih, buku pelajaran. Tidak jarang Ia membaca “Buku Pintar” dan
    ensiklopedia yang Ia pinjam dari perpustakaan (saya mengetahuinya karena di buku
    tersebut ada label huruf R-nya), menggunakan kedua bola mata yang terbingkai indah
    oleh kacamata ber-frame tebalnya.

    Saya tidak pernah berani mendekatinya. Saat itu, saya hanyalah seorang
    berandal angkatan, yang kerjaannya hanya nongkrong setiap pulang sekolah dan datang
    pagi-pagi sekali untuk mencontek PR. Kebetulan, IQ saya 166. Itu cukup menolong,
    mengangkat derajat dan martabat saya di mata Papa—yang selalu menganggap saya
    adalah orang yang begitu bodoh tapi sok pintar, bukan orang pintar yang sok bodoh
    seperti dirinya.

    Saat itu Bulan Februari 2004. Kata orang, Bulan Februari adalah bulan cinta,
    maybe it’s regarding to the Saint Valentine’s Day which happens in February. Awalnya
    saya tidak berpikir demikian, tetapi setelah menjalani beberapa kejadian bersamanya,
    dan jatuh cinta, saya ikut-ikutan merasa bahwa Februari adalah bulan cinta (for you to
    be noted, I don’t think a day named Saint Valentine’s Day exists, anyway).

    Latihan sepakbola selalu usai ketika langit sudah mulai berwarna kejinggaan.
    Ketika hal itu tiba, saya menaruh pantat di pinggir lapangan sambil menenggak botol air
    mineral 1,5 liter yang akan segera saya habiskan. Rutin diadakannya pada Hari Selasa
    dan Kamis, karena di Hari Rabu dan Jumat, lapangan dipakai oleh tim basket andalan
    sekolah kami. Saya suka main basket sebenarnya, tetapi tidak bergabung di ekskul.

    Menurut saya – seperti sebagian besar kaum laki-laki, sepakbola boleh dibilang
    merupakan “segalanya”. Di tim, saya suka pindah-pindah posisi, tetapi paling sering
    memegang posisi bek, kadang-kadang malah pemain tengah. Saya senang memegang
    posisi itu karena dengan menjadi bek, kita tidak akan dipersalahkan jika tim kita kalah,
    tetapi dipuji jika berhasil menghalau lawan.

    Saya meluruskan kaki yang pegal, dan menyandarkan tubuh di pilar yang
    menyangga koridor. Ketika itulah saya mendengar suara Fari, teman main saya di SMA,
    memanggil saya dari kejauhan. Ia bertanya, kapan saya akan pulang. Fari adalah anak
    yang cuek dari potongan luarnya, tetapi Ia sangat perhatian jika kita telah mengenalnya
    dengan baik. Matahari sudah berada menuju terbenam, langit pun menjadi semakin
    jingga...
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  7. #25
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,177
    Thanks
    1,259
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    saya meletakkannya dengan asal-asalan. Saya tidak pernah mau terlambat latihan
    sepakbola hanya karena harus merapikan pakaian!
    Saya begitu menyukai warna jingga. Bagi saya, warna jingga bisa mencerminkan
    banyak hal. Kegembiraan dan keceriaan saya; perpaduan sang dwiwarna—karena saya
    juga nasionalis seperti Ebiet; warna yang mencerminkan transformasi antara siang dan
    petang, dan ketika langit berwarna jingga petang itu, saya memejamkan mata— sejenak.


    November 2003
    “Far, itu siapa sih? Yang pakai kacamata tebal warna toska?” tanya Langge suatu
    siang. Ia sedang asyik melahap kwetiau gorengnya yang tinggal sedikit ketika seorang
    perempuan berkacamata melewatinya dan Fari. Gadis itu memakai sweater berwarna biru
    elektrik yang sangat kegedean dan sedang membaca kertas-kertas di tangannya dengan
    serius. Sesekali Ia menyeruput minumannya, sepertinya lemon squash.

    Beautiful geek.

    Langge terpesona bukan main, karena gadis itu tampak lucu sekali dengan balutan
    sweater tersebut, mengingat postur tubuhnya ultramungil. Seperti anak kecil yang
    memakai kemeja ayahnya, yang kegedean, seperti Sherina di sampul album “Andai Aku
    Besar Nanti”-nya.

    “Ooh, itu Ebiet. Temen SMP gue. Cantik yak? Pinter banget anaknya... NEM-nya
    kan paling tinggi waktu masuk sini. Geek lucu gitu,” terang Fari yang siang itu memilih
    nasi uduk dan ayam goreng sebagai menu makan siang.

    Good. Gue paling rendah, gelombang dua pula. Keren.” Langge melanjutkan
    santapannya. Ia berhenti memperhatikan Ebiet, yang sudah menghilang dari
    pandangannya.

    Keesokan harinya, Langge sedang berada di pinggir lapangan basket sehabis
    bermain bola di jam istirahat ketika Ebiet lewat di belakangnya, menuju ke ruang guru
    yang letaknya tidak begitu jauh dari sana.

    Langge segera beranjak berdiri dan mengejarnya secepat mungkin, kendati
    kakinya masih pegal bekas bermain bola sebagai striker. Langge senang sekali bergontaganti
    posisi sebagai seorang laki-laki. Terkadang Ia menjadi striker, bek, kiper di tim bola
    sekolah. Satu-satunya hal yang tidak pernah berubah hanyalah, Langge tetap menjadi
    seorang jenius yang cuek, jenius dari akar-akarnya yang merupakan anugerah dari Tuhan,
    namun sayangnya tidak pernah Ia manfaatkan.

    Derap langkahnya semakin cepat, seiring semakin dekat pula dirinya dengan
    Ebiet, yang Ia targetkan hari ini dapat Ia ajak berkenalan. Paling tidak, Langge harus bisa
    mendapatkan nomor ponsel Ebiet. Langge bukan geek yang susah mendapatkan cewek.
    Justru sebaliknya, Ia termasuk di dua kasta teratas di angkatannya pada saat ini,
    mengingat statusnya sebagai anak kesayangan pelatih tim bola SMA-nya. Sayangnya,
    Langge lebih tertarik untuk menjadi orang yang anti-sosial. Sedikit teman. Cuek.
    Langge pun berlari melewati Ebiet kemudian berhenti di depan gadis itu,
    menghalangi jalannya.

    “Halo! Ebiet ya? Kenalan yuk!” sapa Langge ceria. Senyumnya ramah sekali,
    berbeda dari biasanya. Hal ini disebabkan karena Ia sangat, sangat ingin berkenalan
    dengan gadis yang berada di hadapannya ini.

    Raut wajah Ebiet yang tadi begitu datar tetap saja tidak berubah, masih datar dan
    kosong. Raut wajah khas wanita independen yang seolah-olah menyerukan, “Lo tau
    nggak, gue gak butuh cowok buat hidup
    !!!”
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  8. #26
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,177
    Thanks
    1,259
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    “Sorry, gue ada keperluan ke ruang guru,” jawabnya ketus, yang malah
    membuatkan senyum lebar tersungging di bibir Langge. Interesting.

    “Bentar doang ya elah! Pelit waktu banget sih? Langge.” Ia menyodorkan
    tangannya. Nadanya barusan tidak menggoda, murni ingin mengajak kenalan. Ebiet
    mempesonanya. Entah karena wajah, kepintaran, keketusan, Langge tidak dapat
    mencerna perasaannya.

    “O. Gue kira Jingga. Abis rata-rata barang yang lo punya warnanya jingga sih.”
    Ebiet melangkah meninggalkan Langge dalam kekecewaan karena kegagalannya
    dalam mencapai target. Ebiet bahkan tidak mau menyebutkan namanya untuk Langge.

    Tetapi, Langge justru makin tertarik dengan cewek itu. Pertama, Ebiet
    memperhatikannya karena gadis itu menyadari bahwa ransel, tali sepatu dan dompet
    Langge berwarna jingga. Yang kedua, karena gadis itu mengatakan “jingga”, bukan
    “oranye”, seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya yang menyebut “merah jambu”
    menjadi “pink”—seolah-olah pink itu merupakan kata dalam Bahasa Indonesia.

    Februari 2004
    Langge membuka matanya. Hari sudah gelap. Ia pun melihat ke arah arloji
    digitalnya—yang lampunya berwarna jingga. Terang saja, sudah pukul tujuh lewat
    setengah jam. Wajar jika sekolah benar-benar sepi. Tetapi Langge sudah sangat terbiasa
    akan hal itu. Ia terbiasa bermain basket sampai malam setelah latihan sepakbola sehingga
    tidak ada pilihan lain selain trespassing, sebab, gerbang sudah dikunci satpam sebelum Ia
    pulang.

    Satpam sekolahnya, Soeroto dan Sariyadi namanya. Keduanya dulu begitu gagah
    berani, tubuhnya seperti siswa-siswi Taruna Nusantara, Magelang. Namun sekarang
    sudah lumayan gaek dan sering mengobrol dengan anak-anak di SMA tersebut, termasuk
    Langge. Jadi Soeroto dan Sariyadi sudah tahu bahwa rumah Langge begitu dekat dengan
    sekolahnya, mereka juga sudah tahu bahwa Langge jago memanjat, jadi mereka juga
    memilih tidak peduli terhadap tingkah laku seorang anak yang membuat mereka dimarahi
    wakepsek berkali-kali karena kecolongan memberi kesempatan bagi sang berandal untuk
    tidak mengikuti pelajaran Fisika dan Biologi—dua pelajaran yang paling Langge benci.

    Ia menatap langit sekali lagi. Warnanya sudah gelap sekali, tidak ada jingga yang
    tadi, meski secercah saja. Ia pun membereskan atribut latihan sepakbolanya kemudian
    beranjak, melangkah dengan santai menuju gerbang. Memanjat gerbang dengan santai.
    Loncat dari gerbang dengan santai pula. Di saat santai itu lah Ia mendengar teriakan
    seorang perempuan. Langge nyaris mati mendadak mendengarnya.

    “Eeeeeh! Tungguuu!” Begitu bunyi teriakannya. Langge segera menengok. Tebak
    Ia melihat siapa. Ya, Ebiet. Berlari dengan tergesa-gesa menuju gerbang.

    “Langge, tolong bukain dong. Lo gimana caranya bisa keluar?” tanyanya panik.

    “Manjat,” jawab Langge simpel. Ia berkata sedatar mungkin, karena memanjat
    memang merupakan salah satu hobinya sejak dulu

    “Terus? Masa gue manjat?” tanya Ebiet lagi, nadanya sedikit ketus dan
    meremehkan. Ekspresinya sedih sekaligus bingung, dicampur malu, tidak ada lagi
    ekspresi independent woman yang sering sekali dilihat oleh Langge.

    “Terseraaaah...” kata Langge tidak peduli, inginnya membalas perbuatan ketika
    Ebiet Ia ajak kenalan. Ebiet yang cuek dan tidak peduli. Ia juga bisa menjadi cuek dan
    tidak peduli.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  9. #27
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,177
    Thanks
    1,259
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Ebiet memperhatikan roknya yang bermodel span, bukan A-line, dan panjangnya
    sebetis pula. Bagaimana caranya Ia bisa memanjat pagar sekolah yang setinggi itu?
    “Ini gue bawa celana bola... Pake aja, gak apa-apa. Tapi, lo manjat sendiri ya?”
    kata Langge dengan asalnya. Ia tidak peduli.

    “Ah, Ngge, gue gak bisa manjat!” Ebiet berusaha meyakinkan Langge. “Apalagi...
    Gue punya acrophobia.”

    “HAH? Apaan tuh? Takut gue?” Langge bertanya sekenanya, mengingat Ia hanya
    tahu bahwa fobia berarti ketakutan yang berlebihan akan sesuatu. Mana mungkin Ia tahu
    jenis-jenis fobia? Ia lebih suka slogan Daredevil, a man without fear.

    “Gue punya ketakutan yang teramat sangat terhadap ketinggian...” jelas Ebiet
    dengan nada kekanak-kanakan. Lucu sekali kedengarannya di telinga Langge, membuat
    hatinya mulai luluh, perlahan... “Gue takuuuut...” tambahnya.

    “Terus, apa hubungannya sama gue?!” Kebalikan dari gejolak hatinya, Langge
    malah membalas Ebiet yang ketus dengan ketus pula, harga diri gue mau ditaruh di
    mana?!

    Ebiet segera meminta kepada Langge untuk membantunya, semanja-manjanya,
    “Langge... Please, bantuin gue manjaaaat, gue nggak bisa, dan gue takut. Please...
    Please...”

    “Nggggaakk! Gue mau pulang! Laper, tau! Ngapain juga gue ngurusin orang yang
    gue gak kenal. Lo aja gak mau nyebutin nama lo ke gue waktu itu!” Beg. Come on. Beg!

    Langge hanya menunggu satu kalimat terucap dari bibir Ebiet, untuk membuat
    semua mimpinya menjadi kenyataan. Seluruh mimpinya yang adalah tentang Ebiet.
    Semuanya.

    “Gue takut,” jawab Ebiet singkat, tidak ada kata atau partikel lainnya yang
    menempel di belakang frase itu. “Please, Ngge... Please... I will do anything!”

    Nah. Kalimat Sakti terucap. Langge hanya perlu mengucapkan satu kalimat lagi,
    untuk mencapai segalanya.

    “Anything?” ulang Langge.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  10. #28
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,177
    Thanks
    1,259
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Yes, yes, anything!” jawab Ebiet—yang masih sepanik tadi, sehingga tidak dapat
    berpikir panjang lagi. Apalagi hari sudah sangat gelap. Apabila Langge tidak mau
    menolongnya, bisa-bisa Ia menginap di sekolah. Ia harus mengakui bahwa gedung
    sekolah di malam hari begitu menyeramkan karena tidak berpenghuni. Berbeda dengan di
    siang hari yang begitu berwarna dan menyenangkan baginya, walau tanpa teman
    sekalipun.

    “Oke, lo harus jadi cewek gue selama...” – lamanya – “3 hari. How’s that sound?”
    tanya Langge kemudian, dengan nada mengejek, sekaligus mengancam.

    Eeeh? Enak aja! “Whatever. Sekarang tolongin gue!” pinta Ebiet. Langge
    melakukan hal itu dengan senang hati.

    * * *

    Tiga hari telah berlalu. Ternyata, tiga hari itu belum segalanya. Tidak pernah
    menjadi untuk selamanya. Sekarang hari-hari saya sepi tanpa kehadiran Ebiet. Meskipun
    kemarin-kemarin Ia pun tidak berkata apa-apa, hanya menjadi “pacar” saya di dalam
    bisu, tetap saja hari saya terasa lebih berwarna. Paling tidak, dibandingkan dengan
    biasanya


    “Ebiieeet sayaaaang...” panggil Langge ketika melihat mantan pacarnya di
    kantin. Di hadapannya. Si gadis berkulit putih dengan kacamata ber-frame tebal berwarna
    toska. Hari ini rambutnya digerai dan Ia tidak memakai sweater. Langge tetap deg-degan.
    Bayangkan, kemarin-kemarin meskipun status mereka pacaran, boro-boro ‘jalan bareng’,
    cuma status saja yang menempel di antara mereka berdua. Bedanya, Ebiet tidak begitu
    galak menanggapi Langge.

    “Eh, perjanjian kita, cuma tiga hari. Hari ketiga itu udah kemarin. Kenapa masih
    manggil sayang-sayang segala?” tanya Ebiet simpel dan langsung pada maksud
    pertanyaan. Berbeda sekali dengan Langge yang begitu ahli dalam hal berbasa-basi.

    “Ya karena gue sayang sama lo,” jawab Langge, lebih simpel dan praktis lagi.

    “Gue gak mau pacaran sama orang bego!”

    Itu kalimat terakhir yang ingin saya dengar.
    Last edited by zoeratmand; 12-11-2012 at 09:52 AM. Reason: edit prefix
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  11. #29
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,177
    Thanks
    1,259
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    5 – Four, Four, Four


    Juni 2006
    Rumah Ebiet, 15:33

    LANGGE INGIN SEKALI MENGAJAK EBIET MENGUNJUNGI RUMAH TALITEMALI.
    Sebab itulah, sore ini, Langge mendatangi rumah Ebiet untuk mengajak gadis itu
    pergi. Lagipula, sudah lama juga Ia tidak bertemu dengan ibunya Ebiet. Ia mengetuk
    pintu beberapa kali, dan langsung dibukakan oleh sang nyonya rumah. Tanpa menundanunda
    lagi, Langge segera menyapa beliau.

    Assalamu’alaikum, Tante...” sapanya.

    “Eh, Langge. Sudah lama tidak bertemu ya, Nak. Mari, mari, masuk,” ujar beliau.
    Inilah salah satu hal yang Langge sukai dari ibunya Ebiet. Begitu friendly dalam
    menyikapi kehadirannya. Bahkan kadang-kadang Langge merasa bahwa Si Tante jauh
    lebih ramah dan menyenangkan dibandingkan anaknya yang seringkali dingin dan ketus.
    Dua kepribadian yang selalu saling mengisi. Ia menyalami dan mencium tangan ibunya
    Ebiet tersebut, baru kemudian masuk ke dalam rumah.

    “Ehm, Tante, Langge mau ngajak Ebiet pergi. Boleh nggak?” tanyanya.

    “Wah, mau ke mana? Buru-buru sekali?”

    “Ke Rumah Talitemali, Tante. Panti asuhan, Langge mau ajak Ebiet bertemu
    dengan adik-adik asuh Langge,” tuturnya.

    Terbersit di kepalanya saat-saat Ia masih duduk di kelas 1 SMA dan untuk
    pertama kalinya ngapel ke rumah Ebiet. Pertama kali berkenalan dengan ibunya. Pertama
    kali mencium pipinya. Huh...

    “Wow, I love kids,” tambah sebuah suara. “Hai!” sapa Ebiet, yang sudah
    berpakaian rapi. Rapi dalam arti kata siap untuk berpergian, bukannya fully dressed up.

    Sore itu, Ebiet mengenakan kaus bermotif batik dan celana sate berbahan jins. Langge
    tersenyum dengan dua alasan karenanya. Pertama, karena Ebiet cantik sekali
    dandanannya hari itu, seperti sebelum-sebelumnya. Ebiet banget: nasionalis. Kedua,
    karena Ebiet menyapanya, itu justru menjadi alasan sekunder.

    “Bu, aku boleh pergi ya?” tukas Ebiet kemudian, setelah mencium pipi ibunya.

    “Ibu gak diajak?” tanya sang ibu. Langge tertawa mendengarnya.

    “Boleh kok, Ibu emangnya mau ikut? Boleh kan, Ngge?” Ebiet melirik ke arah
    Langge yang sudah pasti mengiyakan.

    “Boleh dong, Tante. Ayo, Tante ikut aja yuk!” Langge malah menyambut godaan
    tersebut. Jika Ia tidak bisa pergi berjalan-jalan bertiga bersama Mama dan Ebiet
    sekaligus, mungkin mengajak ibunya Ebiet bisa menjadi salah satu pilihan cerdas. Ia pasti
    bisa tahu banyak tentang Ebiet melalui ibunya, dan kemungkinan memperoleh restu
    untuk memacari Ebiet (lagi) tentunya lebih besar.

    “Ah, enggak deh, Ibu bercanda kok. Ibu mau ke rumah Eyang. Kalian hati-hati ya,
    baik-baik ya di jalan,” tukasnya. Langge dan Ebiet segera pamitan dengan sopan dan
    santun, lalu berjalan ke dalam mobil Langge.

    “Berangkat yuk! Kita mau ke mana sih? Kok ada anak-anaknya segala tadi? Aku
    nggak dengar jelas...” tanya Ebiet ketika sudah berada di dalam mobil Langge.

    Sebenarnya, Langge prefer untuk pergi ke mana-mana menggunakan motor trail
    kesayangannya, atau malah naik angkutan umum. Tapi, bersama Ebiet? Tidak mungkin
    Ia mengajak cewek itu pergi naik motor di depan ibunya.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  12. #30
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,177
    Thanks
    1,259
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Langge masih menerawang ke saat-saat mereka masih bersama. Mengingat yang
    dulu mereka pernah jalani berbarengan. Dengan Langge yang masih malas-malasan dan
    berandalan, sementara Ebiet selalu menjadi siswi paling pintar di sekolah mereka.

    Saat-saat di mana Langge begitu menikmati detik-detik membersihkan kacamata
    Ebiet dengan kemejanya, atau saat-saat di mana Ebiet bercerita dengan bahasa sangat
    tinggi, yang terkadang membuat Langge tidak mengerti, sekaligus membuat wawasan
    dan pengetahuannya bertambah. Saat-saat di mana Ebiet bersikeras pulang sendiri dengan
    bis kota, meskipun Langge berbaik hati ingin menemaninya, tapi ditolak mentah-mentah
    oleh pacarnya. Saat-saat di mana mereka berdua pergi ke Gramedia, Ebiet di bagian
    politik sementara Langge di bagian komik. Ebiet bahkan mendapat beasiswa untuk pergi
    ke Singapura, yang membuat mereka harus berpisah.

    Tapi, masih ada juga hal-hal yang sama seperti dulu. Ebiet yang sok kuat tetapi
    sebenarnya begitu manja di hadapan Langge, mereka berdua yang sama-sama begitu
    menyukai seni, Langge yang masih suka trespassing dan memotret, Langge yang masih
    keras kepala, dan Ebiet yang selalu menerimanya apa adanya.

    Seandainya waktu bisa berhenti, biarkan aku selalu berada di sebelahmu.

    April 2004

    Sakit hati Langge terhadap Ebiet masih belum usai, meskipun “bulan cinta” itu
    sudah lewat dua bulan. Selama dua bulan tersebut, Langge tidak henti-hentinya
    melancarkan ‘manuver’ pendekatan terhadap Ebiet. Salah satu usahanya adalah belajar di
    depan mata Ebiet, mengikuti les bimbingan belajar yang diikuti Ebiet, klinik mata
    pelajaran, loncat-loncat kegirangan ketika hasil ulangannya yang bagus dipampang di
    majalah dinding, dan sebagainya. Langge benar-benar belajar segiat mungkin.

    Dua bulan ini pula Langge harus menelan rasa pahit ditolak wanita. Ebiet, yang
    seolah-olah tidak pernah mempedulikan dirinya.

    Sore itu, Langge mengunjungi pameran fotografi yang diselenggarakan oleh Keke
    Tumbuan di MES 56.

    “You know me therefore I am”

    Begitulah judul pamerannya. Langge melangkah dengan gontai, menjelajahi
    setiap jengkal dinding ruangan yang dipenuhi foto. Beberapa foto memiliki kertas kosong
    di bawahnya, di mana para pengunjung dapat memberikan komentar akan foto tersebut.
    Pameran foto ini mengingatkan pengunjungnya akan fenomena situs Friendster yang
    sedang meledak di kala itu, dengan menampilkan foto yang berusaha memancing
    kalimat, “lho, ini kan temen gue? Kok dia kenal ini juga?” dan sebagainya.

    Langge tidak begitu menikmati pameran, karena pikirannya melayang ke manamana.
    Apalagi, ternyata hari pembukaannya adalah tanggal 3 April-—kemarin, padahal
    Langge ingin sekali bertemu teman-teman sesama penikmat fotografinya di malam
    pembukaan. Langge telat sehari.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

Page 3 of 20 FirstFirst 1234513 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •