Join Indofiles VIP IndoLocker.com - We here to Share

User Tag List

Page 2 of 20 FirstFirst 123412 ... LastLast
Results 11 to 20 of 194

Thread: Jingga

  1. #11
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,248
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Langge menatap langit-langit kamarnya yang suram dan gelap, karena dinding
    kamarnya berwarna kelabu. Itu merupakan perintah ibunya, Langge sudah meminta agar
    kamarnya diwarnai dengan warna jingga, yang tentunya ditolak mentah-mentah oleh
    ibunya yang mengenyam program studi desain interior di bangku kuliah. Bukan karena
    jingga adalah satu warna yang terlarang atau apa. Ibu manapun akan menganggap anak
    laki-lakinya ‘'kurang normal’' apabila memiliki kamar berwarna jingga terang.

    Di sana, tertempel foto-foto hasil jepretannya, terutama foto Ebiet dan anak-anak
    di panti asuhan. Simpel alasan Langge menempelkan foto-foto itu di sana: supaya Ia
    dapat memimpikan keceriaan anak-anak, maupun memimpikan memeluk Ebiet dan
    menghangatkannya. Ya. Ebiet yang tidak tahan cuaca dingin. Ebiet yang selalu melendot
    di bahu Langge.

    Kalau bangun tidur pun Langge bisa sesegera mungkin melihat foto Ebiet dan
    pasti mengingat Ebiet. Love is when you wake up thinking nothing else but her. Dan
    Langge tidak rela jika Ia sampai mengingat hal lain selain Ebiet ketika bangun dari
    tidurnya.

    “"Ma, tadi dong Langge ketemu Ebiet. Dia lagi pulang,"” ujarnya ceria ketika
    ibunya meletakkan keranjang seterikaan di kamar Langge. ‘'Lagi pulang? Jadi pulangnya
    Ebiet itu memang gak pernah lama ya...’'


    Suaranya cerita, namun kepalanya sakit bukan main. Tetapi, Ia tidak ingin tertidur
    dulu. Ia ingin mengingat-ingat dan mengenang seluruh kenangan indahnya bersama
    Ebiet, dan kenangan yang baru saja terukir petang tadi. Selama beberapa tahun
    belakangan, selama Ebiet “'meninggalkannya'”, Langge terlalu sering menggunakan
    otaknya dibandingkan perasaan. Sesuai sekali dengan kodrat laki-laki. Sebab itu, hatinya
    tidak lagi terasah untuk menyatakan cinta dan kerinduannya pada Ebiet. Ia sudah lupa
    bagaimana caranya.

    Langge sampai-sampai sering sekali berharap bahwa ada salah satu malaikat di
    muka bumi yang ditugaskan oleh Tuhan untuk membuat story-line dari masing-masing
    ciptaan-Nya. Kalau nanti Ia mati, Ia ingin sekali melihat story-line atau rekaman
    hidupnya untuk ditonton. Khusus bagian-bagian indahnya saja, saat-saat di mana Ia
    bersama dengan Ebiet.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  2. #12
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,248
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Mama menanggapi seadanya. Langge semakin capek hati. Apakah semua anak
    adopsi diperlakukan seperti dirinya? Seolah-olah dianaktirikan. Setiap adik-adiknya
    mengajak orangtuanya berbicara, mereka selalu menanggapi dengan ramah dan penuh
    senyum. Sementara apabila Langge yang angkat suara, mereka hanya menanggapi pelan,
    lelah, sampai runyam: "“iya"”, "“enggak"”, “"oke”".

    Tidak jarang Langge merasa iri mendengar adik-adiknya yang lahir dari rahim
    ibunya bercandatawa dengan ayahnya. Ayahnya selalu keras pada Langge, dan
    sebaliknya, lembut pada kedua adiknya. Tapi Langge tidak pernah boleh membantah. Ia
    tidak pernah mau membantah. Karena, suami-istri itu adalah kedua orangtua yang telah
    memungutnya dan membesarkannya.

    Langge tidak tahu ayah dan ibu kandungnya ada di mana. Yang Ia tahu, ayahnya
    bernama Gunaryo, bekerja sebagai buruh ketika menaruhnya di depan Rumah Talitemali,
    panti asuhan yang rutin Ia kunjungi setiap Selasa sore itu. Itulah mengapa Ia memilih
    panti asuhan tersebut sebagai ‘rumah kedua’nya, karena rumahnya yang sebenarnya
    memang di sana. Langge memilih berbakti untuk orang-orang yang dulu merawatnya
    ketika Ia masih merah.

    Salah seorang perawat yang berperan penting dalam membesarkannya dulu
    bernama Ibu Minah, yang sampai sekarang masih bekerja dan tinggal di Rumah
    Talitemali. Namun, belakangan ini Langge belum bertemu dengannya. Kata Lita, Ibu
    Minah sedang dinas di luar kota.

    16 tahun yang lalu, orangtua angkatnya mengadopsi Langge dari Rumah
    Talitemali dan membesarkannya hingga sekarang. Karena itu, Ia paling anti membantah
    kedua orangtuanya selama 16 tahun ini. Tetapi sekarang Langge merasa harus mengikuti
    kata hatinya dan mewujudkan mimpi-mimpinya, meskipun itu berarti dalam hati Ia
    menentang kedua ayah-ibunya.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  3. The Following User Says Thank You to zoeratmand For This Useful Post:


  4. #13

    cimohai's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    Bandung
    Posts
    227
    Thanks
    249
    Thanked 118 Times in 78 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    semoga cerita ini dari awal ampe akhir ada pertumbuhan usia si langge dan si ebiet

    Kalau mentok ama cerita sekolah dan kuliah kayanya ane ga tertarik *mungkin karena umur ane ga muda lagi

    Btw, baru tahu nih langge anak angkat, pantas dia doyan ke rumah pantis asuhan...

    karena hari gini jarang banget anak muda yang peduli dengan yang namanya yayasan amal, panti asuhan, dll...

    Nice trit om, ayo dilanjut....

    *sebelum saya sok tempe (baca : lagi) dan membuat si langge jadi maho kaya si pram

    lanjoootttt...

  5. The Following User Says Thank You to cimohai For This Useful Post:


  6. #14
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,248
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Quote Originally Posted by cimohai View Post
    semoga cerita ini dari awal ampe akhir ada pertumbuhan usia si langge dan si ebiet

    Kalau mentok ama cerita sekolah dan kuliah kayanya ane ga tertarik *mungkin karena umur ane ga muda lagi

    Btw, baru tahu nih langge anak angkat, pantas dia doyan ke rumah pantis asuhan...

    karena hari gini jarang banget anak muda yang peduli dengan yang namanya yayasan amal, panti asuhan, dll...

    Nice trit om, ayo dilanjut....

    *sebelum saya sok tempe (baca : lagi) dan membuat si langge jadi maho kaya si pram

    lanjoootttt...
    tenang om, cerita ini bukan hanya sekolah dan kuliah, tapi ebiet dan langge dan "jingga"....
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  7. #15
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,248
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    3 – Our Lives

    LANGGE MELANGKAH TURUN DARI BIS KOTA.
    Jujur. Saya begitu merindukannya. Merindukan Ia di dalam dekapan saya, yang
    hangat untuknya. Merindukan Ia meringkuk di sebelah saya ketika tertidur. Merindukan
    Ia. Merindukan Ebiet.

    Tapi, hanya merindukannya saja. Saya tidak tahu harus melakukan apa untuk
    menghadapinya. Padahal selama ini, saya sering sekali “berlatih”, bagaimana
    menghadapi situasi jika tiba-tiba bertabrakan dengan Ebiet di Orchard Road,
    bagaimana menghadapi situasi jika bertemu dengannya di reuni SMA, apa yang harus
    saya katakan, saya lakukan, gestur tubuh yang bagaimana yang akan menarik hatinya
    lagi. Hal-hal bodoh seperti itu.

    Lebih bodohnya lagi, semua itu saya pelajari dan praktekkan: tidak di depan
    Ebiet. Di depannya, saya hanya mematung seperti orang bodoh dengan canggung dan
    kata-kata yang saya ucapkan jauh sekali dari apa yang saya pikirkan di kepala.


    Sudah Hari Selasa lagi. Saatnya bagi Langge untuk menjenguk adik-adiknya di
    Rumah Talitemali. Langkahnya begitu pasti. Seperti kepastian akan rindunya terhadap
    Ebiet. Sepasti keinginannya untuk mengenal adik barunya yang bernama Jingga, warna
    kesukaannya, warna tas yang selalu Ia pakai ke mana-mana meskipun sudah lusuh.

    Tadinya Langge berniat untuk mengajak Ebiet ke Rumah Talitemali, tetapi Ebiet
    harus menemani ibunya ke suatu tempat, Langge lupa. Seperti semua orang tahu, lakilaki
    memang jarang mengingat hal-hal detil seperti tanggal ulangtahun dan tempat-tempat
    penting. Tentang orang yang paling Ia sayangi sekalipun.

    Seperti biasa, rute langkah kaki Langge menuju masih sama seperti yang kemarin-kemarin.
    Dari bangsal khusus penderita hydrocephalus dan cacat lainnya, lalu ke kamar
    di mana bayi-bayi bercanda (yang hari ini mereka tertidur pulas, karena sedang jam tidur
    siang), lalu baru ke tempat balita-balita bermain game.

    "“Adik-adik... Kakak Langge datang tuh!"” ucap Lita yang selalu menyambut
    kedatangan Langge dengan senyum tulusnya. Lita telah hampir sepuluh tahun bekerja di
    sana, namun masih tergolong muda.

    Satu orang mencuri pandangan Langge. Ia segera melangkah ke arah orang itu.
    Derap langkahnya begitu pasti. Tidak, ini bukan Jingga. Belum.

    "“Ibu Minah!"” sapa Langge ceria, menyapa seorang ibu yang sudah agak tua tetapi
    masih terlihat bugar, auranya menutupi keriput-keriput di wajahnya dan warna kulit yang
    sudah memudar. "“Ibu apa kabar?”" tambah Langge.

    "“Kabar Ibu baik, Langge. Kamu sendiri gimana?”" tanya Ibu Minah. Ibu Minahlah
    yang ketika Langge bayi sampai diadopsi merawatnya di Rumah Talitemali. Oleh
    karena itu, Langge merasa sangat berhutang budi terhadapnya.

    "“Baik-baik juga, Bu. Kemarin-kemarin kok Ibu gak ada?”"

    "“Ibu ditempatkan sebentar di cabang Talitemali yang di Jogja, untuk melatih
    perawat-perawat baru. Sekitar satu bulan. Gimana, hasil ujiannya? Sudah pengumuman?
    Waktu lihat anak-anak Jogja lulus-lulusan, Ibu langsung teringat kamu,"” ujar Ibu Minah,
    mengingat Langge adalah satu dari sedikit anak-anak yang dulu tinggal di Rumah
    Talitemali yang masih mengunjungi tempat mereka dibesarkan tersebut. Ada yang sudah
    jadi selebriti, ada yang hanya lupa akan masa kecilnya, atau ada yang meminta mereka
    untuk melupakannya.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  8. #16
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,248
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    “Alhamdulillah, lulus, Ibu. Kemarin juga Langge bertemu sama pacar Langge
    waktu SMA, yang di Singapur itu lho, Ibu. Kapan-kapan Langge ajak ke sini deh, Bu,
    Langge kenalkan,” janjinya.

    Setelah berbincang-bincang sejenak dengan Ibu Minah, Langge dipanggil oleh
    anak-anak yang sudah tidak sabar menerima cokelat dan kudapan yang biasa Ia berikan.
    Hari ini Langge tidak membawa cokelat, tetapi Ia malah membelikan jajanan pasar
    seperti kue lapis pepe, lemper, risoles, kue cubit dan kue ape.

    “Kakak Langge, mana cokelatnya?” tanya Oppie yang memang tergila-gila akan
    cokelat.

    “Ah, aku sih gak apa-apa makan apa saja, asal dari Kakak Langge, aku mau
    makan,” timpal Akilla, yang membuahkan kalimat protes dari Reno.

    “Huh, kamu, Kill. Mentang-mentang Kakak Langge ganteng. Tapi kan udah tua,
    sama aku aja deh kamu mendingan!” Kalimat Reno tersebut memancing tawa belasan
    anak yang ada di sana. Sementara di satu sudut, ada seorang anak yang sedang
    memainkan permainan Solitaire dengan kartu remi. Jingga. Entah dari mana Ia
    mempelajarinya.

    “Aku hari ini gak bawa cokelaaat...” kata Langge, jujur.

    “YAAAAAAHHHHH...” Hampir semua anak mengucapkan kata tersebut.

    “Tapi aku bawa ini!” Langge berkata dengan ceria sambil mengeluarkan
    bungkusan jajanan pasar tersebut. Kata ‘yah’ tadi berubah menjadi..

    “HOORREEEE!!!” kata mereka dengan kompaknya. Masing-masing anak mulai
    memilah-milih makanan yang mau mereka santap.

    Langge tersenyum senang. Ia ingin adik-adiknya menyukai jajanan pasar, seperti
    dirinya. Jajanan tradisional yang biasa dijual secara grosir di Pasar Subuh Senen, dari kue
    lapis pepe, combro-misro, kue mangkok (Langge senang bisa mendapatkan kue dengan
    kelapanya, karena sekarang sudah jarang), klepon, dan kudapan lainnya. Menurutnya,
    jajanan tradisional Indonesia memang tiada duanya. Indonesia juga tidak ada duanya. Ia
    heran mengapa bisa-bisanya masyarakat Indonesia membakar hutan dan menoreh nama
    Indonesia di Guinness World Book of Records edisi tahun 2008 pada kategori ‘negara
    penghancur hutan tercepat’. Mungkinkah mental kita masih terjajah?

    Langge teringat lagi akan Ebiet. Sejak Ia mengenal Ebiet, gadis itu selalu
    menyukai jajanan pasar yang murah meriah. Ebiet jauh lebih menyukai lapis pepe
    dibandingkan dengan cheesecake, dan lebih menyukai es podeng daripada gelato. Ebiet
    lebih senang nonton kartun Si Unyil daripada anime yang diputar di televisi. Karena pola
    pikirnya seringkali terpusat pada fakta bawa Jepang telah menjajah bangsa kita dengan
    semena-mena, karena itu Ia tidak mungkin membalas dengan menyukai hal-hal mengenai
    negara tersebut sedikitpun. Langge tidak tahu apakah prinsip Ebiet sekarang sudah
    berubah atau belum, mengingat di Singapura juga ada segelintir orang Jepang yang
    bermukim.

    Pandangannya lagi-lagi tercuri pada sosok satu anak yang dari tadi menyendiri.
    Atau berdua, bersama kartu-kartu yang tergeletak dengan susunannya yang rapi di
    depannya (ataukah semestinya kusebut, mereka ada berlimapuluhtiga?). Langge
    meninggalkan anak-anak dengan plastik-plastik berisi kue, sementara Ia melangkahkan
    kakinya menuju Jingga.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  9. #17
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,248
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    “Jingga?” panggilnya pelan, takut-takut Jingga justru malah takut akan dirinya.

    Jingga mendongak, karena Ia sedang berduduk sila seperti sedang bertapa di
    lantai sementara Langge yang jauh lebih tinggi darinya berdiri membungkuk, memegangi
    lututnya layaknya posisi shalat yang disebut rukuk.

    “Kamu lagi main apa?” tanyanya, mencoba ramah dan sabar menghadapi anak
    itu.

    Jingga menunjuk ke arah sebuah kartu.

    “Ooh, kartu. Solitaire kan? Kenapa gak main sama yang lain?” tanya Langge lagi.

    Jingga menggeleng tanpa menatapnya. Ia terus memainkan kartu-kartu remi itu.

    “Kamu kan bisa ajarin mereka. Main apa ya? 41 mungkin, atau cangkul?
    Gampang kan?”

    Jingga hanya mengangguk. Tetapi Langge tidak mau menyerah. Ia memilih untuk
    duduk di dekat Jingga dan melihat gadis kecil itu bermain kartu. Entah mengapa, Langge
    merasa ada suatu hal yang familiar dari Jingga, suatu perasaan di mana kau merasakan
    perasaan orang lain. Seperti ada hubungan batin yang aneh, tapi entah apa.

    Ia menawarkan lagi kepada Jingga, apa kue yang diinginkan oleh anak itu. Tetapi
    Jingga hanya menggeleng dan menggeleng, lalu memainkan kartu tanpa henti. Ia tidak
    pernah gagal menyelesaikan setiap permainan.

    Ketika jam dinding berdentang empat kali, Jingga merapikan kartu-kartunya dan
    beranjak melakukan hal lain. Pada saat yang tidak jauh berbeda, Langge menerima SMS.

    Langge mau temenin Ebiet makan es krim ga? Ragusa. Makasih Langge.

    Beberapa saat kemudian, Langge membalas SMS Ebiet. Mengiyakan ajakan gadis
    itu.

    * * *
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  10. #18
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,248
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Ragusa, 17:10

    Akhirnya, sampai juga di kedai es krim Italia Ragusa.

    Es krim Ragusa memiliki rasa yang khas, karena campuran susunya lebih banyak
    dibandingkan es krim lainnya yang lebih banyak menggunakan krim pada bahanbahannya.
    Itulah sebabnya, mengapa Ebiet sangat, sangat ingin menyantap es krim ini
    selagi berada di Jakarta. Mereka berdua tadi bahkan tidak tahu mau naik apa ke Jalan
    Veteran, di mana kedai es krim itu berada.

    Alhasil, setelah bertemu Ebiet, Langge mengajak gadis itu naik bis kota dan turun
    di Terminal Blok M. Dari sana, mereka berdua naik TransJakarta dan pindah koridor di
    Halte Harmoni. Malangnya, karena kesoktahuan Langge, mereka berdua salah naik bus.
    Bukannya bus yang biru, mereka malah naik bus yang berwarna abu-abu. Langge sudah
    sedikit lega ketika itu, karena saat Ia bertanya pada staf TransJakarta, katanya bus abu-abu
    itu juga turun di Gambir. Ternyata, halte Gambir yang dimaksud jauh sekali dari
    Jalan Veteran. Jadi, mereka berdua memilih tidak turun di sana.

    Namun, bus berjalan jauh sekali, dan tidak menemukan pemberhentian
    berikutnya. Karena takut nyasar, Langge pun memutuskan untuk turun di halte
    berikutnya agar tidak begitu jauh dari Masjid Istiqlal, yang menjadi patokannya untuk
    mencapai kedai tersebut. Mereka pun berhenti di Halte Kwitang, yang ternyata
    merupakan sebuah halte yang hanya berfungsi untuk menurunkan penumpang dari arah
    Gambir, bukan dari arah Senen, jadi mereka berdua tidak bisa naik bus lagi kecuali ke
    arah Senen.

    Langge dan Ebiet pun berduaan naik bajaj ke Jalan Veteran. Mungkin bagi
    beberapa orang, itu merupakan hal yang romantis, tapi tidak bagi mereka berdua!
    Bagaimana bisa romantis? Di sepanjang perjalanan, Ebiet selalu diperhatikan dari ujung
    kepala sampai ujung kaki oleh cowok-cowok, abang-abang, mas-mas yang ada di
    sekitarnya, sampai-sampai gadis itu urung melepas genggamannya dari tangan Langge.
    Saat itu, Langge berubah menjadi super protektif terhadap perempuan yang kadang-kadang
    Ia anggap kekasihnya itu – secara sepihak.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  11. #19
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,248
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Syukurlah, mereka berdua kini telah sampai dengan selamat di kedai es krim ini.
    Suasananya begitu intim, klasik, penuh cinta. Langge menyukai semuanya. Hawanya,
    udaranya, cuacanya, atmosfirnya, dan terlebih lagi... orang yang ada dengannya untuk
    menikmati momen yang tiada duanya ini.

    “Tadi romantis ya, Ngge? Baru pertama kalinya lho Ebiet berduaan naik bajaj
    sama cowok,” kata Ebiet, out of the blue. Langge begitu ingin menyambit cewek di
    hadapannya itu dengan kamera yang langsung Ia utak-atik sesampainya di Ragusa dan
    mendapatkan tempat duduk.

    “Romantis, romantis. Romantis tuh ya, Biet, kamu nemenin aku ke Camp Nou di
    Barcelona untuk nengokin Ronaldinho sama Eto’o. Duduk-duduk di pantai juga romantis.
    Mana ada yang namanya naik bajaj itu romantis?!” Dasar cewek, batinnya kemudian.

    “Idih, lucu tau,” Ebiet lalu melahap spaghetti ice cream yang Ia pesan. “Rasanya
    nggak pernah berubah ya?”

    Spaghetti ice cream adalah salah satu penganan spesial yang disajikan kedai es
    krim Italia itu, yaitu es krim vanila yang disajikan dalam bentuk pasta spaghetti dengan
    saus cokelat, kacang, dan potongan buah sukade. Ebiet begitu menyukainya, meskipun
    harganya relatif mahal.

    “Ebiet juga gak berubah. Emangnya di Singapura gak ada es krim?” tanya Langge
    ingin tahu. Ia sedang memotret-motret Ebiet dengan semangat di dalam hati, kendati
    pembawaannya tetap tenang.

    Mereka berdua sama-sama menyukai atmosfir sore itu. Angin yang semilir
    melambai dan menyejukkan suasana, pengamen yang ada sekitar semeter dari mereka
    berdua sedang menyanyikan lagu “How Deep Is Your Love?” versinya sendiri, tukang
    otak-otak yang bercanda dengan tukang rujak juhi di depan kedai, seorang kakek yang
    meracik es krim di balik konter, bunyi jepretan kamera Langge yang kerap kali merekam
    memori mereka berdua, kursi-kursi rotan yang agak reyot, interior kedai— serasa di
    jaman tempo dulu...

    “Ah, Langge... Kan gak ada yang pemandangannya ke tukang otak-otak, gak ada
    yang disajikan sebelah rujak, gak ada restoran yang ada Langge motret-motret begini...”
    Ebiet berujar. “Aaaaaaa’...”

    Ia menyuap sesendok es krim ke mulut Langge sambil menyuruh cowok itu
    membuka mulutnya.

    “Sini, aku suap sendiri,” pinta Langge. Memangnya dia masih TK apa sampai-sampai
    mau disuapi seperti itu?

    “Udah deh! Terima aja kenapa sih? Bawel!” Ebiet setengah membentak.

    Akhirnya, Langge menerima suapan itu dengan pasrah. Siapa sih yang bisa menolak
    kenikmatan es krim? Dingin dan manis, kombinasi yang sempurna. Seperti Ebiet, yang
    dingin, tapi tidak pernah tidak manis di mata Langge.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  12. #20
    zoeratmand's Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    want in Jogja
    Posts
    1,175
    Thanks
    1,248
    Thanked 564 Times in 356 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    “Eh, Teater Tanah Air menang lagi lho, Biet,” cerita Langge, tanpa berhenti
    memotret Ebiet sekali-sekali. Ia tahu, Ebiet begitu menyukai topik yang ada
    hubungannya dengan seni, tidak berbeda dengan dirinya. Apalagi Ebiet begitu cerdas dan
    berwawasan luas, hal itu didukung pula dengan sekolah Ebiet di Singapura yang
    sepertinya begitu mendukung hasratnya.

    “Oh ya? Judulnya apa, Ngge? Ebiet lupa.”

    “Bumi di Tangan Anak-anak. 19 medali emas, termasuk Best Performance, Best
    Director
    di World Festival, di Lingen, Jerman. Keren ya? Dengar-dengar sih tahun depan
    mereka mau road show keliling dunia...” kata Langge.

    “Wow. Eh, di sekolahku ya, sering banget diadain konser, Ngge. Yang paling
    besar sih United Nations Night, karena siswa SOS mayoritas ‘pendatang’ dari berbeda-beda
    negara. Di waktu-waktu tertentu juga ada konser yang lebih kecil, misalnya
    christmas atau spring concert. Ada juga Global Picnic, acara semacam United Nations
    Night
    , tapi lebih mirip dengan bazar. Stand dari Indonesia juga ada, kita bikin makanan
    khas Indonesia dan ngasih suvenir ke pengunjung. Yang paling seru sih waktu itu teman
    Ebiet yang hometown-nya di Jawa Barat, bawain pensil yang di atasnya ada wayang
    golek mini... Lucu banget deh. Tadinya Ebiet mau ngasih ke Langge, tapi ketinggalan di
    sana...” cerita Ebiet dengan antusias, Langge pun ikut antusias mendengarnya.

    Langge ingin sekali hidup seperti itu, seperti di sekolah Ebiet, dikelilingi orang
    dengan berbagai macam karakteristik dan dari berbagai bangsa. Berbeda warna kulit,
    berbeda bahasa, aksen dan dialek, berbeda sudut pandang. Pasti Ia bisa menjadi lebih
    ‘kaya’ akan pengetahuan dan wawasan, apalagi Langge merasa mampu
    mengabadikannya menjadi sangat indah ke dalam kameranya.

    “Asik amat...” Hanya itu yang dapat Langge utarakan.
    “Tapi capek banget deh, belakangan ini ada banyak banget PR, terutama dari
    pelajaran Art. Kan Ebiet ngambil itu, apalagi Ebiet pengen banget kuliah di NAFA, jadi
    mesti ngambil Art. Enak sih, tapi capek juga. Pernah waktu itu yang namanya art exam,
    dua hari berturut-turut, mesti bikin prep work, tapi tugas itu barengan sama pas aku harus
    bikin science lab report! Hhhhh, Thank God udah lewat, hehehe... Untungnya kalo lupa-lupa
    tugasnya apa aja, bisa akses school web. Bisa langsung e-mail gurunya pula, nanya
    PR,” kata Ebiet lagi.

    “Indonesia lagi niru tuh, Biet. Sepupuku yang sekolah di SMA negeri aja
    sekarang rapornya cuma berupa kertas, murni hasil print dari internet.”
    Obrolan itu berlangsung sepanjang satu sore di Bulan Juni.
    -ketika kamu lahir banyak orang yang tersenyum dan hanya kamu yang menangis, maka jalanilah hidupmu dengan kebaikan agar kelak ketika kamu mati banyak orang yang menangis dan kamu bisa tersenyum-

  13. The Following User Says Thank You to zoeratmand For This Useful Post:


Page 2 of 20 FirstFirst 123412 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •