Join Indofiles VIP IndoLocker.com - We here to Share

User Tag List

Page 2 of 10 FirstFirst 1234 ... LastLast
Results 11 to 20 of 96

Thread: Cerita Epos Mahabharata

  1. #11

    ~Dipi~'s Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    Di dapur, masak!!
    Posts
    21,884
    Thanks
    2,519
    Thanked 60,308 Times in 10,310 Posts
    Mentioned
    155 Post(s)
    Tagged
    17 Thread(s)

    Default

    (Lanjutan Adiparwa)

    Ringkasan isi Kitab Adiparwa

    Adiparwa dituturkan seperti sebuah narasi. Penuturan isi kitab tersebut bermula ketika Sang Ugrasrawa mendatangi Bagawan Sonaka yang sedang melakukan upacara di hutan Nemisa. Sang Ugrasrawa menceritakan kepada Bagawan Sonaka tentang keberadaan sebuah kumpulan kitab yang disebut Astadasaparwa, pokok ceritanya adalah kisah perselisihan Pandawa dan Korawa, keturunan Sang Bharata. Dari penuturan Sang Ugrasrawa, mengalirlah kisah besar keluarga Bharata tersebut (Mahabharata).

    Mangkatnya Raja Parikesit

    Dikisahkan, ada seorang Raja bernama Parikesit, putera Sang Abimanyu, yang bertahta di Hastinapura. Ia merupakan keturunan Sang Kuru, maka disebut juga Kuruwangsa. Pada suatu hari, beliau berburu kijang ke tengah hutan. Kijang diikutinya sampai kehilangan jejak. Di hutan beliau berpapasan dengan seorang pendeta bernama Bagawan Samiti. Sang Raja menanyakan kemana kijang buruannya pergi, namun sang pendeta membisu (bertapa dengan bisu). Hal tersebut membuat Raja Parikesit marah. Ia mengambil bangkai ular, kemudian mengalungkannya di leher sang pendeta.

    Abimanyu adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata. Ia adalah putera Arjuna dari salah satu istrinya yang bernama Subadra. Ditetapkan bahwa Abimanyu-lah yang akan meneruskan Yudistira. Dalam wiracarita Mahabharata, ia dianggap seorang pahlawan yang tragis. Ia gugur dalam pertempuran besar di Kurukshetra sebagai kesatria termuda dari pihak Pandawa, karena baru berusia enam belas tahun. Abimanyu menikah dengan Utara, puteri Raja Wirata dan memiliki seorang putera bernama Parikesit, yang lahir setelah ia gugur.

    Abimanyu terdiri dari dua kata Sanskerta, yaitu abhi (berani) dan man'yu (tabiat). Dalam bahasa Sansekerta, kata Abhiman'yu secara harfiah berarti "ia yang memiliki sifat tak kenal takut" atau "yang bersifat kepahlawanan".
    Putera sang pendeta yang bernama Srenggi, mengetahui hal tersebut dari penjelasan Sang Kresa, kemudian ia menjadi marah. Ia mengutuk Sang Raja, agar beliau wafat karena digigit ular, tujuh hari setelah kutukan diucapkan. Setelah Sang Raja menerima kutukan tersebut, maka ia berlindung di sebuah menara yang dijaga dan diawasi dengan ketat oleh prajurit dan para patihnya. Di sekeliling menara juga telah siap para tabib yang ahli menangani bisa ular. Pada hari ketujuh, yaitu hari yang diramalkan menjadi hari kematiannya, seekor naga yang bernama Taksaka menyamar menjadi ulat pada jambu yang dihaturkan kepada Sang Raja. Akhirnya Sang Raja mangkat setelah digigit Naga Taksaka yang menyamar menjadi ulat dalam jambu.
    Taksaka adalah salah satu naga, putera dari Dewi Kadru dan Kashyapa. Ia tinggal di Nagaloka bersama saudara-saudaranya yang lain, yaitu Basuki, Antaboga, dan lain-lain. Dalam Mahabharata, Naga Taksaka adalah naga yang membunuh Raja Parikesit. Dikisahkan bahwa Dewi Kadru yang tidak memiliki anak meminta Resi Kasyapa agar menganugerahinya dengan seribu orang anak. Lalu Bagawan Kashyapa memberikan seribu butir telur agar dirawat Dewi Kadru. Kelak dari telur-telur tersebut lahirlah putera-putera Dewi Kadru. Setelah lima ratus tahun berlalu, telur-telur tersebut menetas. Dari dalamnya keluarlah para naga. Naga yang terkenal adalah Basuki, Ananta, dan Taksaka.

    Bersambung
    I Don't Dance. I Headbang.

  2. #12

    ~Dipi~'s Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    Di dapur, masak!!
    Posts
    21,884
    Thanks
    2,519
    Thanked 60,308 Times in 10,310 Posts
    Mentioned
    155 Post(s)
    Tagged
    17 Thread(s)

    Default

    (lanjutan Adiparwa)

    Raja Janamejaya mengadakan upacara korban ular

    Setelah Maharaja Parikesit mangkat, puteranya yang bernama Janamejaya menggantikan tahtanya. Pada waktu itu beliau masih kanak-kanak, namun sudah memiliki kesaktian, kepandaian, dan wajah yang tampan. Raja Janamejaya dinikahkan dengan puteri dari Kerajaan Kasi, bernama Bhamustiman. Raja Janamejaya memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dunia tenteram, setiap musuh pasti dapat ditaklukkannya. Ketika Sang Raja berhasil menaklukkan desa Taksila, Sang Uttangka datang menghadap Sang Raja dan mengatakan niatnya yang benci terhadap Naga Taksaka, sekaligus menceritakan bahwa penyebab kematian ayahnya adalah karena ulah Naga Taksaka.

    Sang Raja meneliti kebenaran cerita tersebut dan para patihnya membenarkan cerita Sang Uttangka. Sang Raja dianjurkan untuk mengadakan upacara pengorbanan ular untuk membalas Naga Taksaka. Singkat cerita, beliau menyiapakan segala kebutuhan upacara dan mengundang para pendeta dan ahli mantra untuk membantu proses upacara. Melihat Sang Raja mengadakan upacara tersebut, Naga Taksaka menjadi gelisah. Kemudian ia mengutus Sang Astika untuk menggagalkan upacara Sang Raja. Sang Astika menerima tugas tersebut lalu pergi ke lokasi upacara. Sang Astika menyembah-nyembah Sang Raja dan memohon agar Sang Raja membatalkan upacaranya. Sang Raja yang memiliki rasa belas kasihan terhadap Sang Astika, membatalkan upacaranya. Akhirnya, Sang Astika mohon diri untuk kembali ke Nagaloka. Naga Taksaka pun selamat dari upacara tersebut.
    Kerajaan Kasi merupakan salah satu kerajaan India Kuno yang terletak di sisi sungai Gangga. Ibukotanya bernama Waranasi, berada di Banaras, Uttar Pradesh. Tempat itu merupakan tempat yang sangat suci, sering menjadi tempat khusus pemujaan para Dewa. Sumitra, salah istri Raja Dasarata dalam kisah Ramayana, berasal dari sana. Lakshmana membangun kota Lakshmanapura tak jauh dari Kasi. Istri Raja Wicitrawirya dari Dinasti Kuru, Ambika dan Ambalika, berasal dari sana.
    Wesampayana menuturkan Mahabharata

    Maharaja Janamejaya yang sedih karena upacaranya tidak sempurna, meminta Bagawan Byasa untuk menceritakan kisah leluhurnya, sekaligus kisah Pandawa dan Korawa yang bertempur di Kurukshetra. Karena Bagawan Byasa sibuk dengan urusan lain, maka Bagawan Wesampayana disuruh mewakilinya. Ia adalah murid Bagawan Byasa, penulis kisah besar keluarga Bharata atau Mahābhārata. Sesuai keinginan Raja Janamejaya, Bagawan Wesampayana menuturkan sebuah kisah kepada Sang Raja, yaitu kisah sebelum sang raja lahir, kisah Pandawa dan Korawa, kisah perang di Kurukshetra, dan kisah silsilah leluhur sang raja. Wesampayana mula-mula menuturkan kisah leluhur Maharaja Janamejaya (Sakuntala, Duswanta, Bharata, Yayati, Puru, Kuru), kemudian kisah buyutnya, yaitu Pandawa dan Korawa.
    Kurukshetra (dalam pewayangan dikenal sebagai Kurusetra) adalah sebuah distrik di negara bagian Haryana, India Utara. Wilayah ini terkenal di kalangan umat Hindu sebagai tempat berlangsungnya kisah sentral dalam wiracarita Mahabharata, yaitu perang besar antara Korawa dan Pandawa.

    Kata Kurukshetra berarti "Lapangan Kuru". Dalam bahasa Indonesia seringkali nama ini diterjemahkan sebagai "Medan Kuru". Dinamai Kurukshetra untuk menghormati Wangsa Kuru, karena menurut legenda, tanah tersebut menjadi suci berkat jasa seorang raja bernama Kuru.

    Kisah mengenai Raja Kuru yang menyucikan sebuah lapangan agar menjadi tanah suci dapat disimak dalam kitab Wamanapurana, dan dihubungkan dengan sejarah Kurukshetra. Sejarah Kurukshetra dihubungkan pula dengan keberadaan suku Kuru, yang sering melakukan persembahyangan di tepi sungai Saraswati dan Drishadvati, dua sungai yang mengalir di wilayah Kurukshetra.

    Kurukshetra muncul dalam wiracarita Mahabharata. Dalam kisah tersebut, Kurukshetra digunakan sebagai medan perang saat para keturunan Kuru (Korawa) berebut kekuasaan dengan para saudara tiri mereka, Pandawa. Setelah berlangsung selama 18 hari, pertempuran dimenangkan para Pandawa.

    Beberapa kilometer dari Kurukshetra terdapat sebuah desa bernama Amin. Di sana terdapat sisa peninggalan sebuah benteng yang diyakini sebagai benteng Abimanyu, salah satu kesatria Pandawa, pada saat perang di Kurukshetra.
    Duswanta atau Dushyanta merupakan leluhur keluarga Pandawa dan Korawa dalam wiracarita Mahabharata. Duswanta merupakan salah satu keturunan Sang Puru yang menurunkan Wangsa Paurawa. Ia bertahta di sebuah kerajaan India Kuno yang kemudian menjadi Hastinapura. Permaisuri beliau bernama Sakuntala dan putera beliau bernama Bharata yang menurunkan keluarga Bharata dalam kisah Mahabharata.
    Sakuntala adalah nama permaisuri Raja Duswanta, leluhur Pandawa dan Korawa dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan Ibu dari Raja Bharata yang menurunkan keluarga Bharata. Ia juga merupakan anak angkat Bagawan Kanwa. Konon Ibu kandungnya adalah bidadari Menaka dari kahyangan.

    Dikisahkan ada seorang pertapa bernama Wiswamitra, dulu merupakan seorang Raja namun kemudian meninggalkan kehidupan istananya karena ingin mendapatkan kejayaan seperti Bagawan Wasistha. Tapanya sangat khusuk, tak tergoyahkan. Melihat hal tersebut, Dewa Indra mengutus bidadari Menaka agar menguji tapa Sang Wiswamitra. Bidadari Menaka terbang ke tempat Wiswamitra bertapa, diiringi Dewa Bayu dan Semara.

    Ketika sampai di tujuan, bidadari Menaka menjalankan tugasnya. Bidadari tersebut menggoda Sang Wiswamitra sehingga nafsu birahinya muncul. Bidadari Menaka kemudian dihamili oleh Sang Wiswamitra. Setelah merasa tugasnya telah diselesaikan dengan baik, bidadari Menaka terbang kembali ke kahyangan sementara Sang Wiswamitra pergi meninggalkan tempat pertapaannya karena gagal. Di tepi sungai Malini, Sang bidadari melahirkan bayi perempuan. Bayi tersebut ditinggalkan seorang diri di sana sementara ibunya terbang ke kahyangan tanpa cinta kasih. Kemudian sang bayi dirawat oleh burung Sakuni.

    Bagawan Kanwa yang sedang mencari kembang di sekitar sungai Malini terkejut melihat seorang bayi tergeletak, dirawat oleh burung Sakuni. Lalu bayi itu dipungut, diberkahi, dipelihara, dan diberi nama Sakuntala karena dirawat oleh burung Sakuni.

    Sakuntala dan Raja Duswanta

    Pada suatu ketika, Prabu Duswanta pergi berburu sampai ke tengah hutan di kaki gunung Himawan. Setelah masuk jauh ke tengah hutan, ia menemukan lokasi pertapaan yang sangat indah, yang ternyata kediaman Bagawan Kanwa. Di sana ia disambut dengan ramah oleh puteri cantik jelita bernama Sakuntala. Melihat wajah sang puteri petapa yang sangat elok, timbulah keinginan Sang Raja untuk menikahinya. Sakuntala menolak, namun dirayu terus oleh Sang Raja. Akhirnya Sakuntala bersedia menikahi Sang Raja dengan syarat bahwa anak yang dilahirkannya harus menjadi pewaris tahta Sang Raja. Karena diselimuti rasa cinta, Sang Raja bersedia memenuhi permohonan tersebut.

    Kemudian Sang Raja bercinta dengan Sakuntala. Tak lama setelah itu, ia pergi meninggalkan pertapaan karena terikat oleh kewajibannya sebagai seorang Raja. Ia pun pulang dan berjanji bahwa kelak ia akan kembali lagi ke pertapaan tersebut untuk menjemput Sakuntala beserta anaknya jika sudah lahir.

    Ketika Sakuntala termenung mengenang kepergian Sang Raja, Bagawan Kanwa pulang dari hutan sambil membawa bunga dan kayu bakar. Sakuntala hanya diam membisu. Karena kesaktiannya, Bagawan Kanwa mengetahui kejadian yang dialami Sakuntala meskipun Sakuntala bungkam. Bagawan Kanwa membesarkan hati Sakuntala dan memberinya kata-kata yang lembut. Nasihat Bagawan Kanwa menyejukkan hati Sakuntala.

    Kelahiran Sang Bharata

    Dari hasil hubungannya dengan Raja Duswanta, lahirlah seorang putera rupawan, diberi nama Sarwadamana. Tanda-tanda ia merupakan calon seorang penguasa dunia tampak dari gambar cakra di telapak tangannya. Setelah anaknya lahir, Sakuntala dengan setia menunggu kedatangan Raja Duswanta. Namun Sang Raja tak kunjung datang. Hati Sakuntala menjadi semakin sedih memikirkan masa depan anaknya yang tak kunjung dijemput sang ayah sebagai pewaris kerajaan. Meliha hal tersebut, Bagawan Kanwa menyuruh Duswanta beserta anaknya agar pergi menghadap Sang Raja di ibukota.

    Penolakan Sang Raja

    Karena ingin agar anaknya menjadi Raja, Sakuntala rela pergi ke ibukota. Setelah sampai di ibukota, Sakuntala menghadap Sang Raja yang sedang bersidang di istana kerajaan. Di depan umum, Sakuntala menjelaskan maksud kedatangannya bahwa ia hendak menyerahkan puteranya, Sarwadamana, sebagai putera mahkota karena janji Sang Raja. Mendengar pengakuan tersebut, Raja Duswanta menolak kebenaran perkataan Sakuntala. Bahkan ia menolak telah menikah dan memiliki anak dari Sakuntala. Ia juga menghina dan mencela Sakuntala di muka umum. Sakuntala menangis karena dipermalukan. Bagaimana pun penjelasannya agar Sang Raja mau mengakui Sarwadamana sebagai putera, Sang Raja selalu mengelak.

    Tiba-tiba terdengar suara dari langit yang membenarkan perkataan Sakuntala. Raja tak bisa mengelak lagi lalu ia menyongsong dan memeluk Sakuntala beserta anaknya. Kemudian ia menagis karena bahagia sambil berkata, "Duhai Sakuntala, sebenarnya aku sangat gembira akan kedatanganmu. Namun aku terhalang karena kedudukanku sebagai Raja. Apa kata dunia bila akau menikahimu yang tidak dikira sebagai istriku? Kini kesangsian itu tak ada lagi, karena semuanya telah mendengar sabda dari langit yang membenarkan ucapanmu. Karena itu, engkau adalah istriku dan Sarwadamana adalah puteraku. Ia akan kuangkat sebagai Raja menggantikan kekuasaanku. Namanya kuganti menjadi Bharata karena berdasarkan sabda dari langit".

    Setelah Raja Duswanta berkata demikian, ia menyerahkan tahta kepada Sarwadamana yang berganti nama menjadi Bharata. Kemudian Bharata menaklukkan daratan India Kuno (Bharatawarsha) dan menurunkan Kuru, yang menurunkan Wangsa Kaurawa (Korawa).
    Puru adalah nama raja dari kalangan Dinasti Candra. Ia merupakan putra bungsu Yayati dan Sarmista. Saudaranya ada empat, yaitu: Yadu dan Turwasu (saudara tiri), Druhyu dan Anu (saudara kandung). Puru dan kedua saudaranya merupakan hasil hubungan Yayati dengan Sarmista.

    Sebelumnya, Yayati telah menikah dengan Dewayani, putri Sukracarya, guru para raksasa. Pernikahannya dengan Sarmista adalah pernikahan yang tidak disetujui oleh Dewayani. Maka dari itu, pernikahan Yayati dengan Sarmista telah membuat Dewayani sakit hati. Atas pengkhianatan tersebut, Sukracarya alias Mahaguru Sukra (mertua Yayati), mengutuk menantunya agar menjadi tua lebih cepat. Menurut cerita, kutukan tersebut tak dapat diubah, namun dapat diwakilkan kepada salah satu puteranya.

    Yayati kemudian memanggil seluruh puteranya. Ketika keempat kakaknya menolak untuk mewarisi kutukan yang ditimpa kepada ayahnya, hanya Puru sendiri yang bersedia. Akhirnya ayahnya menobatkannya sebagai Maharaja dan mengutuk keempat putranya yang lain agar tidak bisa mewarisi kerajaan dan susah memiliki keturunan. Setelah masa kutukan habis, Puru menjadi muda kembali kemudian ayahnya mangkat lalu mencapai surga.

    Puru mewarisi wilayah India Utara, dan menikahi Putri Kosalya, kemudian menurunkan wangsa yang disebut Paurawa (Wangsa Bharata dan Kuru termasuk di dalamnya). Dalam Wangsa Paurawa, lahirlah Bharata dan Kuru, leluhur keluarga Bharata dan Dinasti Kuru. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pandawa dan Korawa, tokoh utama dalam kitab Mahabharata (riwayat keluarga Bharata).

    Bersambung
    I Don't Dance. I Headbang.

  3. #13

    ~Dipi~'s Avatar
    Join Date
    Mar 2012
    Location
    Di dapur, masak!!
    Posts
    21,884
    Thanks
    2,519
    Thanked 60,308 Times in 10,310 Posts
    Mentioned
    155 Post(s)
    Tagged
    17 Thread(s)

    Default

    (Lanjutan Adiparwa)

    Garis keturunan Maharaja Yayati

    Leluhur Maharaja Janamejaya yang menurunkan pendiri Dinasti Puru dan Yadu bernama Maharaja Yayati, beliau memiliki dua permaisuri, namanya Dewayani dan Sarmishta. Dewayani melahirkan Yadu dan Turwasu, sedangkan Sarmishta melahirkan Anu, Druhyu, dan Puru. Keturunan Sang Yadu disebut Yadawa sedangkan keturunan Sang Puru disebut Paurawa.

    Dalam silsilah generasi Paurawa, lahirlah Maharaja Dushyanta, menikahi Sakuntala, yang kemudian menurunkan Sang Bharata. Sang Bharata menaklukkan dunia dan daerah jajahannya kemudian dikenal sebagai Bharatawarsha. Sang Bharata menurunkan Dinasti Bharata. Dalam Dinasti Bharata lahirlah Sang Kuru, yang menyucikan sebuah tempat yang disebut Kurukshetra, kemdian menurunkan Kuruwangsa, atau Dinasti Kuru.

    Setelah beberapa generasi, lahirlah Prabu Santanu, yang mewarisi tahta Hastinapura. Prabu Santanu memiliki dua istri, yaitu Dewi Gangga dan Satyawati. Dewi Gangga melahirkan Bhisma, sedangkan Satyawati melahirkan Chitrāngada dan Wicitrawirya. Karena Chitrāngada wafat di usia muda dan Bhisma bersumpah tidak akan mewarisi tahta, maka Wicitrawirya melanjutkan pemerintahan ayahnya. Wicitrawirya memiliki dua permaisuri, yaitu Ambika dan Ambalika. Dari Ambika lahirlah Drestarastra dan dari Ambalika lahirlah Pandu. Drestarastra memiliki seratus putera yang disebut Korawaçata (seratus Korawa) sedangkan Pandu memiliki lima putera yang disebut Panca Pandawa (lima putera Pandu).
    Dewayani merupakan putri Mahaguru Sukra (Sukracarya) dengan Jayanti, putri Dewa Indra. Suaminya adalah Maharaja Yayati dari Dinasti Soma (Candra), keturunan Pururawa, yang kelak menurunkan leluhur Pandawa dan Korawa.

    Ayah Dewayani memiliki ajian yang dapat membuat makhluk dapat hidup kembali, bahkan meski sudah menjadi abu sekalipun. Wrehaspati pun menyuruh Sang Kaca untuk mengabdi kepada Sukra agar ajian itu dapat diwarisi. Kaca melayani Sukra dengan setia, dan hormat kepada Dewayani. Hal tersebut membuat iri para detya, murid-murid Mahaguru Sukra. Meskipun Kaca dibunuh berkali-kali oleh para detya, namun ia dapat hidup kembali atas ajian sakti Sukra.

    Saat Kaca berhasil mewarisi ilmu tersebut dan hendak pulang ke kahyangan, ia dicegah oleh Dewayani. Dewayani memohon agar Kaca menikahinya. Kaca merasa sungkan untuk menikahi anak gurunya sendiri, sehingga ia menolak. Dewayani pun marah lalu mengutuk Kaca supaya kelak ilmu yang dikuasainya tidak sempurna. Tetapi Kaca merupakan seorang murid yang jujur dan setia, sehingga kutukan yang diberikan Dewayani tidak akan mempan. Selain itu, ia Dewayani bertindak karena berdasarkan nafsu belaka. Kaca pun mengutuk Dewayani, agar kelak ia dimadu oleh budak sendiri.

    Dewayani berteman dengan Sarmista, putri Wresaparwa, pemimpin para detya. Pada suatu ketika, Dewayani dan Sarmista mandi di sungai dengan diiringi oleh 1000 pelayan. Tiba-tiba angin bertiup kencang, dan mengacak-acak pakaian mereka. Sehabis mandi, Sarmista mengambil pakaian Dewayani karena tidak menyadarinya. Dewayani pun marah, namun Sarmista juga tidak mau mengalah sehingga ia mendorong Dewayani ke dalam sumur.

    Detya secara harfiah berarti "keturunan Diti." Dalam mitologi Hindu, Detya adalah sejenis makhluk jahat/sebangsa raksasa, keturunan Diti dan Bhagawan Kasyapa. Para Detya sering bertikai dengan para Aditya, atau para dewa, meskipun mereka merupakan saudara seayah. Detya yang terkenal adalah Hiranyaksa, Hiranyakasipu, dan Mahabali. Kadangkala, mereka juga disebut Asura.
    Sementara itu, Raja Yayati, seorang keturunan Pururawa dari Dinasti Soma, sedang berburu. Karena lelah, ia berhenti di suatu tempat dan mencari air di sebuah sumur. Ketika ia menengok ke dalam sumur, didapatinya seorang wanita berada di sana, yang tiada lain adalah Dewayani. Yayati pun menyelamatkan Dewayani. Setelah berhasil keluar dari sumur, Dewayani memperkenalkan dirinya dan bercerita bahwa ia didorong oleh Sarmista, temannya sendiri, karena memperebutkan pakaian setelah mandi. Setelah mendengarkan penjelasan Dewayani, sang raja pergi meninggalkan tempat tersebut. Sang raja berjanji akan kembali kepada Dewayani untuk menjadikannya permaisuri.

    Mahaguru Sukra sangat kesal atas prilaku para detya yang selalu iri, begitu pula terhadap Sarmista, putri Wresaparwa, yang mendorong Dewayani ke dalam sumur. Ketika ia hendak memutuskan untuk berhenti mengajari para detya, Wresaparwa memohon maaf kepadanya, dan berusaha memenuhi keinginan apa pun keinginannya asalkan Sukra tidak berhenti mendidik para detya. Sukra memberi kebebasan kepada putrinya, Dewayani, untuk meminta sesuatu kepada Wresaparwa, sebab Dewayani merupakan putri kesayangannya. Dewayani meminta agar Sarmista beserta seribu pelayannya diberikan kepadanya sebagai budak. Wresaparwa pun memenuhinya dan kemudian Sarmista menjadi budak Dewayani.

    Yayati menghadap Sukra untuk melamar Dewayani. Atas jasanya karena telah menolong Dewayani, Sukra merestui pernikahan Dewayani dan Yayati. Sukra juga mengajukan syarat bahwa sang raja tidak boleh menikahi Sarmista, yakni pelayan Dewayani. Yayati pun menyanggupinya. Dari hasil perkawinannya, Yayati dan Dewayani dikaruniai dua orang putra, yang sulung diberi nama Yadu dan yang bungsu diberi nama Turwasu.

    Setelah dikaruniai dua putra, Yayati dirayu oleh Sarmista. Sang raja pun melupakan janjinya dahulu. Ia berselingkuh dengan Sarmista. Dari hasil perkawinannya, sang raja dikaruniai tiga putra. Yang sulung diberi nama Druhyu, yang tengah diberi nama Anu, yang bungsu diberi nama Puru. Ketiga-tiganya berparas mirip dengan Sang Raja.

    Ketika Dewayani jalan-jalan di taman, ia melihat ada tiga orang anak yang wajahnya mirip dengan suaminya. Dewayani pun menanyakan ayah mereka, dan ia terkejut setelah mengetahui bahwa mereka adalah putra Raja Yayati. Dewayani yang merasa sakit hati, lari mengadu kepada ayahnya, Sukra. Ia mengatakan bahwa sang raja sudah mengingkari janjinya. Sukra kemudian mengutuk Raja Yayati agar menjadi tua lebih cepat, tua sebelum usia yang wajar. Setelah mendapat kutukan tersebut, sang raja memohon agar mertuanya menarik kembali kutukannya. Menurut Sukra, hal itu tak dapat dilakukan, namun salah satu putranya dapat mewakilinya untuk menanggung kutukan tersebut. Kemudian Yayati memanggil kelima putranya.

    Putra pertamanya, Sang Yadu, menolak, maka ayahnya marah dan tak mewarisi tahta kerajaan kepada Sang Yadu. Berturut-turut—Turwasu, Druhyu, Anu—semuanya menolak. Sang raja juga menyatakan bahwa mereka tidak berhak mewarisi kerajaannya. Hanya Sang Puru yang bersedia menanggung kutukan yang diterima Yayati. Kemudian Yayati menikmati masa mudanya kembali dengan Dewayani.
    Sarmista merupakan puteri Wresaparwa, pemimpin para Detya yang berguru kepada Sukracarya, ayah Dewayani. Riwayatnya muncul sekilas dalam kitab pertama Mahabharata, yaitu Adiparwa.

    Ketika Mahaguru Sukra hendak berhenti mendidik para Detya karena kelakuan mereka yang jahat, Wresaparwa berusaha mempersembahkan sesuatu kepada gurunya agar Sang Guru tidak berhenti mengajar. Atas permohonan Dewayani, Sarmista beserta seribu pelayannya dijadikan budak.

    Pada suatu ketika, Sarmista mandi di sungai bersama Dewayani dan seribu pelayannya. Tiba-tiba angin menerbangkan pakaian Dewayani dan Sarmista. Saat mereka selesai mandi, Sarmista mengambil pakaian Dewayani karena keliru. Dewayani pun bertengkar demi memperebutkan bajunya. Dengan marah, Sarmista mendorong Dewayani hingga jatuh ke dalam sumur, setelah itu ia bersama seribu pelayannya meninggalkan Dewayani sendirian yang terperangkap dalam sumur.

    Dewayani menikah dengan Maharaja Yayati dan melahirkan dua orang putera bernama Yadu dan Turwasu. Karena Sarmista merasa iri kepada Dewayani yang memiliki keturunan dari Maharaja Yayati, ia merayu Sang Maharaja agar mengawininya. Sebelumnya Yayati menolak karena ia berjanji tidak akan menikah lagi. Namun Sarmista meyakinkan Yayati bahwa ia adalah budak Dewayani dan karena itu Sarmista juga merupakan milik Yayati. Setelah yakin dengan perkataan Sarmista, Yayati menikahinya. Dari hubungannya, lahirlah tiga orang putera bernama Druhyu, Anu, dan Puru. Dari ketiga pangeran tersebut, hanya Sang Puru yang mewarisi tahta Maharaja Yayati. Kemudian Sang Puru menjadi leluhur Pandawa dan Korawa.
    Yadu adalah nama salah satu tokoh dalam mitologi Hindu, sekaligus salah satu suku yang muncul dalam kitab Regweda. Suku ini konon diturunkan oleh Yadu, (yang juga muncul dalam susastra Hindu seperti Itihasa dan Purana) putera sulung Yayati dengan Dewayani, keturunan dari Sang Pururawa. Yadu memiliki empat saudara, yaitu Turwasu, Druhyu, Anu, dan Puru. Karena ayahnya dikutuk agar menjadi cepat tua, Yadu diminta untuk menanggung kutukan tersebut oleh ayahnya. Namun karena ia dan ketiga adiknya (kecuali Puru) menolak keinginan ayahnya, mereka dikutuk supaya tidak bisa mewarisi kerajaan dan susah memiliki keturunan.

    Yadu dan adiknya yang lain mendirikan kerajaannya sendiri, sedangkan Sang Puru mewarisi tahta kerajaan ayahnya. Yadu memiliki lima orang putera, yaitu Sahasrada, Payoda, Krosta, Nila dan Anjika. Keturunan Sahasrada adalah para raja Hehaya, dan yang paling terkenal adalah Kartawirya Arjuna. Keturunan Krosta adalah leluhur wangsa Wresni dan Andhaka.

    Antara Dinasti Kuru (Wangsa Kaurawa) dan Dinasti Yadu (Wangsa Yadawa) terjalin hubungan kekeluargaan karena kedua dinasti tersebut memiliki leluhur yang sama, yaitu Yayati. Dinasti Kuru merupakan keturunan dari Puru, dan Puru merupakan saudara Yadu. Hubungan kekeluargaan tersebut juga terlihat pada keluarga Pandawa karena Dewi Kunti (Ibu para Pandawa) lahir dalam silsilah Dinasti Yadu dan menikahi Pandu dari Dinasti Kuru.

    Kresna (keponakan Dewi Kunti) disebut juga "Yadawa" karena lahir dalam silsilah dinasti Yadu, dan ia disebut juga "Warsneya", karena lahir sebagai bangsa Wresni. Ia bersaudara sepupu dengan Pandawa karena ayahnya, Basudewa, merupakan kakak dari Kunti, ibu para Pandawa.
    Turwasu (atau Turwasa) merupakan putera kedua dari pasangan Maharaja Yayati dengan Dewayani. Ayahnya berasal dari Dinasti Candra (Soma), keturunan Ikswaku dan Pururawa.

    Karena ayahnya melanggar janji pernikahan, ayahnya dikutuk oleh mertuanya, yaitu Mahaguru Sukra. Setelah ayahnya menerima kutukan untuk menjadi tua lebih cepat, kakaknya (Sang Yadu) dipanggil untuk mewarisi kutukan tersebut, namun kakaknya menolak. Kemudian Turwasu dipanggil setelah kakaknya menolak. Sama seperti Yadu, Turwasu juga menolak.

    Akhirnya, ia bersama saudaranya yang lain (Yadu, Druhyu, Anu) tidak berhak mewarisi kerajaan. Hanya Puru (anak bungsu Yayati) yang bersedia mewarisi kutukan ayahnya. Kakaknya yang bernama Yadu, menurunkan wangsa Yadawa. Tuwasu menurunkan wangsa yang disebut Yawana. Kedua wangsa tersebut tidak mewarisi kerajaan ayah mereka, namun mendirikan kerajaan sendiri.

    Menurut kitab Purana, dari Turwasu diturunkanlah leluhur kerajaan Pandhya, Kerala dan Chola.
    Anu merupakan saudara tiri dari Yadu dan Turwasu, putera dari pasangan Maharaja Yayati dengan Dewayani. Karena ayahnya melanggar janji pernikahan, yakni menikahi Sarmista, sehingga melahirkan Druhyu, Anu, dan Puru, maka ia dikutuk oleh Mahaguru Sukra (mertuanya) agar menjadi tua lebih cepat. Maharaja Yayati lalu memanggil putera-puteranya untuk mewarisi kutukannya, namun empat diantara mereka menolak, termasuk Anu. Hanya Puru yang bersedia menanggung kutukan ayahnya.

    Akhirnya Anu bersama dengan saudaranya yang lain tidak berhak mewarisi kerajaan ayahnya, dan dikutuk agar susah memiliki keturunan. Mereka mendirikan kerajaannya sendiri-sendiri. Keturunan Yadu menurunkan wangsa Yadawa, Turwasu menurunkan Yawana, Druhyu menurunkan Bhoja, keturunan Anu menjadi bangsa Mleccha (suku Barbar), sedangkan Puru menurunkan Paurawa.
    Dewi Gangga merupakan ibu asuh Dewa Kartikeya (Murugan), yang sebenarnya merupakan putera Siwa dan Parwati. Ia juga merupakan ibu Dewabrata (juga dikenal sebagai Bisma), yang merupakan salah satu tokoh yang paling dihormati dalam Mahabharata.
    Satyawati (juga disebut Durghandini dan Gandhawati) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata. Ia adalah istri prabu Santanu dan ibu dari Citrānggada dan Wicitrawirya.

    Sewaktu kecil ia berbau amis, tetapi disembuhkan oleh Resi Parasara, dan kemudian menikahinya lalu melahirkan seorang putra dan diberi nama Wyasa. Dalam versi pewayangan, ia disembuhkan oleh Resi Wyasa.

    Dalam versi pewayangan, Satyawati lebih terkenal dengan nama Durgandini. Sementara itu, tokoh Setyawati sendiri adalah nama istri dari Salya.

    Kelahiran

    Ada seorang Raja bernama Basuparisara, bertahta di Kerajaan Chedi. Raja tersebut masih seorang keturunan Puru dan memiliki permaisuri bernama Girika. Pada suatu hari, Sang Raja pergi berburu. Di tengah hutan, ia melihat bunga-bunga bermekaran, kemudian ia teringat akan kecantikan wajah permaisurinya, Girika. Tanpa sadar air kama-nya menetes, kemudian ia tampung pada sehelai daun. Ia memanggil seekor elang yang sedang terbang di udara, bernama Çyena, untuk mengantarkan air tersebut kepada permaisurinya. Di tengah jalan air yang ditampung dalam daun tersebut jatuh di sungai Yamuna. Di sana hidup seekor ikan besar yang merupakan penjelmaan bidadari yang dikutuk. Air kama tersebut ditelan oleh Sang Ikan kemudian ikan tersebut hamil.

    Di tepi sungai Yamuna, hiduplah keluarga nelayan. Kepala keluarga tersebut bernama Dasabala. Suatu hari Dasabala pergi menangkap ikan lalu ditangkapnya seekor ikan besar yang telah menelan air kama seorang raja. Karena sabda dewata, ikan tersebut tidak dimakan oleh Dasabala. Dari dalam perut ikan keluarlah dua bayi, lelaki dan perempuan. Sang ikan kemudian berubah wujudnya menjadi bidadari kembali lalu terbang ke surga. Kedua anak yang dilahirkan tersebut diserahkan kepada Raja Basuparisara. Anak yang laki-laki diberi nama Matsyapati dan diangkat menjadi Raja di Kerajaan Wirata, sedangkan anak yang perempuan dikembalikan oleh Sang Raja karena baunya amis. Anak tersebut kemudian diberi nama Durghandini karena baunya amis seperti ikan. Orangtuanya memberi Durghandini pekerjaan sebagai tukang menyeberangkan orang di Sungai Yamuna.

    Pertemuan dengan Resi Parasara

    Pada suatu hari, Bagawan Parasara, putera Bagawan Çakri yang merupakan cucu Maharsi Wasistha, berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Durghandini menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu. Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Durghandini. Durghandini kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk. Ayahnya berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara mengatakan bahwa ia bersedia menyembuhkan penyakitnya, lalu ia meraba kulit Durghandini. Tak berapa lama kemudian, bau harum semerbak tersebar dan bahkan dapat tercium pada jarak seratus "Yojana". Karena Resi Parasara berhasil menyembuhkannya, maka ia berhak menjadikan Durghandini sebagai istri. Dari hasil hubungannya, lahirlah Rsi Byasa yang sangat luar biasa. Ia mampu mengucapkan ayat-ayat Veda bahkan ketika baru lahir.

    Pertemuan dengan Prabu Santanu

    Pada suatu ketika Prabu Santanu dari Hastinapura mendengar desas-desus bahwa di sekitar sungai Yamuna tersebar bau yang sangat harum semerbak. Dengan rasa penasaran Prabu Santanu jalan-jalan ke sungai Yamuna. Ia menemukan sumber bau harum tersebut dari seorang gadis desa, bernama Durgandini. Prabu Santanu jatuh cinta dan hendak melamar Durghandini. Ketika Sang Raja melamar gadis tersebut, orangtuanya mengajukan syarat bahwa jika Durghandini (Gandhawati atau Satyawati) menjadi permaisuri Prabu Santanu, ia harus diperlakukan sesuai dengan Dharma dan keturunan Durghandini-lah yang harus